Wednesday, December 28, 2011

Mengubah Suasana Ketidaknyamanan Menjadi Peluang Untuk Berprestasi







Kondisi yang nyaman atau ‘comfortable ‘ tidak akan selamanya dirasakan oleh setiap individu yang hidup dalam lingkungan sosial, karena adakalanya setiap individu yang bersangkutan memiliki persoalan, bahkan mengalami konflik yang mengakibatkan suasana batinnya berada dalam kondisi ketidaknyamanan atau ‘uncomfortable’. Kondisi ketidaknyamanan ini muncul karena adanya beberapa faktor yang saling berkaitan satu sama lain, diantaranya adalah faktor eksternal, seperti adanya perubahan dari lingkungan sekitar terhadap diri kita yang mengakibatkan terganggunya komunikasi dalam sebuah kegiatan sosial, sehingga pada akhirnya kita merasa tersudutkan dan tidak nyaman berada dalam lingkungan tersebut. Faktor kedua yang tidak kalah penting adalah faktor internal yang merupakan dampak yang akan muncul dari dalam individu itu sendiri, seperti perasaan bersalah dan terus menyalahkan diri sendiri maupun keadaan, merasa terasing, merasa kehilangan beberapa hal yang semula sangat berpengaruh dalam kehidupannya, dan muncul kecemasan yang tinggi dalam diri akan kemungkinan-kemungkinan negatif yang akan terjadi dari lingkungannya, sehingga individu yang merasakan hal-hal yang bersangkutan akan tertekan dan tidak ingin menerima kenyataan bahwa semuanya telah berubah.

Perubahan yang ditunjukkan oleh lingkungan atau orang-orang terdekat kita dalam sebuah pergaulan sosial dapat terjadi karena adanya ketidaksesuaian sikap maupun perilaku bahkan komunikasi yang saling bertentangan satu sama lain. Perbedaan persepsi dan sudut pandang juga dapat menjadi faktor terjadinya konflik. Apabila konflik yang tidak diharapkan ini terjadi, maka terjadilah sebuah ketidakharmonisan dalam pergaulan, permusuhan, bahkan perpecahan. Setiap individu dengan persepsi yang berbeda dan berasal dari latar belakang yang berbeda pula, ketika dihadapkan pada sebuah konflik, maka selalu timbul perasaan ingin menang sendiri dan membuat pihak lain lemah bahkan tidak berdaya. Sikap seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena dengan terus membiarkan perasaan seperti ini tumbuh, maka otak akan terus memproses hal-hal negatif yang kita pikirkan, sehingga secara perlahan akan membentuk perilaku kita menjadi negatif dan tidak dapat berproses menjadi lebih baik dengan pemikiran dewasa dan matang.

Sebuah niat dan tekad yang positif harus diciptakan sejak dini. Buatlah segala sesuatu yang ada disekitar kita terasa menyenangkan. Ambil langkah yang bijak ketika kita disudutkan dalam sebuah situasi tanpa harus mempertahankan egoisitas kita untuk tetap menang dan mengalahkan pihak lain dengan cara yang tidak semestinya. Dengan membentuk pola pikir yang sehat dan langkah yang kreatif, maka masa depan yang cerah yang selalu kita bayangkan sebagai suatu imajinasi, dapat tercipta dengan mudah. Sebagai contoh, ketika memasuki bangku sekolah, dimana saat itu kita tidak bisa melakukan apa-apa, namun kita selalu dituntut untuk bisa mengerjakan apa yang diajarkan oleh guru, maka secara perlahan kita terbiasa melakukan hal tersebut, bahkan kita dapat merasakan kenyamanan yang sebelumnya tidak kita dapatkan. Ketidaknyamanan saat pertama memasuki bangku sekolah terjadi, karena kita belum terbiasa dengan lingkungan yang baru kita kenal, kita juga belum dapat memahami seutuhnya aturan-aturan yang diterapkan disekolah, mata pelajaran yang diajarkan guru, dan yang terakhir adalah sifat teman-teman sekelas yang tidak kita kenal sebelumnya. Hal yang demikian akan akan kita rasakan sementara karena adanya proses dimana kita harus beradaptasi dan mencoba mengenal satu sama lain. Oleh sebab itu, sama halnya ketika kita berada dalam kondisi ketidaknyamanan yang membuat kreativiatas dan imajinasi kita terpenjara, maka langkah pertama yang harus kita ambil dan terapkan adalah berpikir positif dan memulai untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat yang dapat mengembangkan keterampilan kita terhadap sesuatu, baik itu mengembangkan hobi, fokus terhadap pelajaran sekolah, maupun kegiatan-kegiatan sosial yang akan sangat bermanfaat bagi lingkungan sekitar kita.

Seseorang yang dapat melakukan introspeksi dan evaluasi terhadap dirinya serta berusaha melakukan perubahan bagi masa depan, dengan cara melatih kepekaan terhadap lingkungan sekitar, maka tak ayal lagi orang yang bersangkutan akan mendapatkan ilmu dan pelajaran-pelajaran baru yang sangat berguna dalam menjalani setiap fase dalam kehidupan. Satu hal yang sangat penting dalam perjalanan menemukan kehidupan yang lebih baik adalah menanamkan keyakinan dalam diri mengenai Sang Pencipta, keyakinan mengenai potensi diri dan keyakinan akan hal-hal yang akan terjadi diluar dugaan kita yang mengharuskan kita untuk siap menerimanya dengan lapang, baik ataupun buruk yang akan terjadi, anggaplah semuanya adalah proses dimana kita sedang diuji mengenai sebuah kedewasaan dan kematangan diri. Kubur dalam-dalam rasa putus asa dan ketidakberdayaan ketika kita kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup ini. Hapus rasa benci ketika kita mengalami perbedaan persepsi mengenai sesuatu dan ubahlah permusuhan itu menjadi wadah untuk kita agar dapat saling memahami dan mengerti sifat dan karakter dari individu yang berbeda.

Kondisi ketidaknyamanan muncul karena kita sendirilah yang menciptakannya. Kita selalu berpikir negatif mengenai orang-orang dan lingkungan sekitar ketika kita mengalami konflik dengan mereka, padahal kita sendiri tidak pernah mengetahui dengan jelas apa yang mereka rasakan sebenarnya, karena bisa jadi apa yang mereka tampakkan dengan apa yang tersimpan dalam hati itu bertolak belakang, karena sifat manusia itu seperti satu keping mata uang yang memiliki dua gambar yang berbeda, yang apabila kita lemparkan uang itu hingga jatuh ke lantai, maka akan terlihatlah satu gambar dari uang itu yang merupakan identifikasi dan ciri dari uang yang bersangkutan dan terkadang kita selalu menganggapnya mutlak, padahal tanpa kita sadari masih ada gambar lain dari uang itu yang masih tertutup dan tidak dapat dilihat dengan mata terbuka kecuali kita membalikannya. Demikian halnya dengan manusia, tidak bisa dinilai dengan hanya melihat satu sisi, karena manusia terlalu unik jika kita menilainya dengan pikiran yang sempit. Ada banyak hal yang tidak bisa kita tebak mengenai manusia, sekalipun dia adalah orang terdekat kita. Selalu ada batasan untuk kita memahami segala sesuatu yang ada dalam diri manusia, karena manusia selalu menyimpan satu ruang dalam dirinya yang tidak ingin diketahui oleh pihak luar, dan dia selalu menyimpannya dengan rapat sehingga tampak sempurnalah segala sesuatu dengan cara yang dia tetapkan terhadap sesuatu itu.

Ada banyak cerita yang menggambarkan betapa sulitnya menjalani kehidupan sehari-hari dalam sebuah lingkungan, dimana lingkungan itu telah berubah dan individu-individu yang berada dilingkungan itu pun tidak menerima kita dengan baik seperti dahulu, sehingga kita terjebak dalam suasana ‘uncomfortable’ dan tidak betah berada dilingkungan tersebut. Salah satu kisah nyata yang penulis alami sendiri adalah ketika menjabat sebagai seorang ketua dalam sebuah organisasi di kampus. Sebagai seorang ketua yang menjabat dalam dua Organisasi sekaligus, otomatis figur seorang ketua selalu dinilai bahkan ditiru oleh mahasiswa lain, namun ketika penulis melakukan sebuah kesalahan yang fatal, dimana persoalan pribadi menjadi pemicu utama adanya konflik, maka penulis pun merasakan suasana ‘uncomfortable’, dimana semua keadaan berubah dan pandangan sebagian orang menjadi berbeda, bahkan banyak diantara mereka yang kecewa. Pada kondisi seperti ini, terlintas sebuah tekad untuk menunjukkan bahwa penulis dapat berubah dan menunjukkan sikap yang lebih baik dari sebelumnya. Berbagai dorongan dari dosen dan mahasiswa lain terus datang seiring dengan melemahnya kekuatan diri. Sebelumnya penulis berpikir untuk pindah kuliah, namun niat itu tak pernah terealisasikan, karena penulis masih mempunyai tanggung jawab dan komitmen terhadap organisasi yang tengah dipimpin. Selain itu, dosen dan mahasiswa lain juga tidak menyetujui rencana itu. Karena adanya semangat dan dukungan, serta tekad yang bulat untuk memperbaiki semuanya, penulis memutuskan berada disana, meskipun suasana perkuliahan selanjutnya yang penulis rasakan tidak nyaman, karena orang-orang terdekat telah menunjukkan sikap yang berbeda bahkan lebih acuh dari sebelumnya, akan tetapi, penulis mencoba menciptakan suasana senyaman mungkin yang dapat menentramkan jiwa dan menjernihkan pikiran. Waktu luang sebelum memasuki jam perkuliahan, penulis manfaatkan untuk pergi ke perpustakaan atau pun mencari informasi mengenai dunia luar, seperti lomba karya ilmiah, bisnis ataupun hal-hal lain yang bermanfaat. Padahal sebelumnya, jarang sekali penulis pergi ke perpustakaan untuk membaca buku perkuliahan, karena penulis banyak menghabiskan waktu berkumpul bersama mahasiswa lain tanpa ada tujuan yang jelas dan hanya membuang-buang waktu. Namun, setelah adanya konflik, penulis dapat mempergunakan waktu dengan lebih baik, berpikir tentang hari esok untuk terus berprestasi dan bersaing mendapatkan nilai perkuliahan yang memuaskan. Konflik itu telah berakhir, namun penulis dapat menata kehidupan yang sedang dijalani tanpa membuang waktu percuma. Dan satu pelajaran yang dapat penulis ambil dari kejadian ini adalah bahwa sebuah kenyamanan itu akan tercipta oleh diri kita sendiri, karena sebenarnya kita sendirilah yang membuat suasana ketidaknyamanan yang selama ini sering kita alami tanpa kita ketahui apa faktor penyebabnya.

Ubahlah kondisi ketidaknyamanan yang kita rasakan saat ini menjadi hal yang menarik untuk kita jalani. Tidak usah melihat hal-hal pahit yang terjadi dimasalalu sebagai mimpi buruk, tapi jadikanlah ia cambuk agar kita tidak jatuh pada lubang yang sama yang telah menjerumuskan kita sehingga kita berada dalam kondisi ketidaknyamanan yang sebenarnya kita ciptakan sendiri. Manfaatkanlah waktu luang yang kita miliki untuk mempelajari kembali ilmu-ilmu yang belum kita pahami secara utuh. Jangan biarkan waktu yang kita miliki terbuang percuma untuk hal-hal yang membentuk diri kita menjadi negatif. Ubah cara berpikir dan bertindak kita. Terus berkompetensi dengan dunia luar. Lupakan hal-hal yang tidak bermanfaat yang akan membuat hati sedih dan gundah. Mulailah bertindak untuk masa depan, perluas wawasan dengan terus mencari informasi yang bermanfaat, perluas jaringan pertemanan yang akan memberi dampak positif. Berhentilah berangan-angan mengenai masalalu yang sudah terjadi dan tidak dapat diubah lagi, karena itu hanya akan menyia-nyiakan waktu kita untuk dapat berkreastivitas dan berprestasai menjadi pribadi yang lebih baik. Tanamkan semangat, optimis dan pantang menyerah, karena masa depan ada ditangan kita dan hanya kita yang dapat membentuk masa depan itu menjadi seperti apa yang kita mau. Berpikir posiflah mulai detik ini juga, ciptakan kreasi dan tunjukan hal yang berbeda dari dalam diri kita dan persembahkan prestasi kita dimata dunia, karena dengan begitu, dunia dapat melihat siapa diri kita yang sebenarnya.




INDRIANI.MONICA

No comments:

Post a Comment