Wednesday, July 31, 2013

Garut

-->
            Garut merupakan salah satu tempatku berpetualang dan mengukir kenangan. 2010, Pertama kali aku menginjakkan kaki di sana bukan untuk berwisata, melainkan menjadi seorang pembicara dalam seminar kewirausahaan yang dilaksanakan di STT.Garut.
Berangkat dari rasa percaya diri dan pengalaman yang dimilki, aku lantas menawarkan kerjasama dengan STT.Garut untuk mengadakan seminar. Aku tidak berangkat sendiri, melainkan dengan salah satu staf dari Commonwhealth Insurance untuk mengisi acara. Setibanya di sana, aku sedikit kaget karena peserta yang hadir sekitar tiga ratus orang mahasiswa, kemudian ada dosen, dekan dan bahkan rektor. Awalnya ada rasa nervous ketika aku yang harus menjadi pembicara yang pertama sebelum pembicara dari Commonwhealth, namun aku dapat mencairkan suasana dengan modal percaya diri yang aku miliki, serta guyonan sederhana yang aku lakukan terhadap audience. Aku menjelaskan beberapa hal yang penting ketika akan memulai untuk usaha, terutama keberanian, rasa percaya diri dan dapat mengambil resiko. Aku juga menceritakan pengalamanku menjadi seorang entepreneur yang dimulai sejak bangku sekolah dasar. Selain motivasi-motivasi yang tidak lain merupakan pengalaman pribadi, aku juga menjelaskan materi tentang pasar modal dan trading valuta asing yang banyak diminati para pelaku bisnis. Audience sangat antusias mendengar penjelasanku, terutama ketika aku menawarkan konsultasi gratis untuk mereka yang ingin memulai usaha atau mencoba bisnis pada  valuta asing dan komoditi. Banyak pertanyaan yang mereka lontarkan ketika aku selesai menjelaskan tentang materi. Senang rasanya karena respon di sini positif terhadap materi yang aku bawakan.
Usai seminar, aku di undang makan bersama oleh bagian akademiknya. Mereka mengungkapkan rasa terimakasih karena telah menyemangati para mahasiswa. Aku juga dinilai mempunyai rasa keberanian yang tinggi untuk menjadi seorang pembicara dalam seminar, padahal  usiaku masih 20 tahun, oleh karena itu, mereka memberikan piagam penghargaan kepadaku. Aku bahkan ditawari untuk mengajar di sana apabila telah lulus kuliah dan juga ada tawaran S2 gratis bagi para dosen yang ingin melanjutkan pendidikannya, baik di Bandung, maupun di Jakarta sebagai bentuk peningkatan kualitas para pengajar yang tidak lain adalah asset penting bagi sebuah lembaga pendidikan.
Menyenangkan ternyata, menjadi seorang pembicara dan dapat membagi pengalaman kita kepada orang lain adalah suatu hal yang luar biasa dan membuat kita ketagihan, serta termotivasi untuk melakukan hal yang sama dengan lebih baik lagi.
            Awal 2011, aku kembali menginjakkan kaki di Kota Garut, kali ini juga bukan untuk berwisata, melainkan untuk menjadi narasumber di salah satu radio di sana.
Nervous?? Tentu, meskipun ini bukan pertama kali aku menjadi narasumber di radio, karena aku telah beberapa kali siaran di beberapa radio di Bandung, namun kali ini lain, karena aku berada di Garut dan dengan materi yang berbeda, yaitu sebagai seorang penulis, bukan entepreneur.
Beberapa orang pendengar kemudian menelphone dan mengajukan pertanyaan. Lumayan banyak dan responnya positif. Aku senang sekali. Dan satu hal, kali ini aku berangkat ke Garut seorang diri dan pulang sekitar pukul tujuh malam.
            Februari 2012, Aku tak pernah menyangka bahwa aku akan ke Kota Garut seorang diri dan itu pun merupakan daerah pelosok yang jauh dari Kota. Sungai Cikandang, di daerah Pakenjeng, Garut Selatan, merupakan salah satu tempat paling menantang untuk melakukan arung jeram. Bermodal rasa ingin tau dan terbilang nekat, aku berangkat ke sana seorang diri setelah menghubungi salah seorang teman yang ternyata tinggal di daerah itu.
Aku berangkat dari Rancaekek dengan kendaraan umum, dan turun di Tarogong, kemudian naik angkot dan disambung dengan elf, hingga tiba di pangkalan ojek sebelum sungai Cikandang, temanku Sulton menjemputku. Aku tiba menjelang magrib dan jalanan agak licin karena hujan. Awalnya aku ragu untuk dibonceng olehnya, karena jalanannya menanjak, terjal, licin dan curam, sangat berbahaya. Kita beberapa kali jatuh karena barang bawaanku cukup banyak dan menurut temannya, Sulton baru pertama kali belajar motor di daerah  ini dan dia juga pertama kali pula membonceng seorang perempuan.
Banyak hal yang terjadi selama di sana, namun tak perlu aku ceritakan dengan detail. Intinya, aku menemukan banyak saudara baru, baik dari warga setempat yang sangat welcome, juga dari para ustadz dan santri salah satu pesantren di sana. Dan peristiwa paling penting yang aku alami adalah ketika aku turun ke Sungai Cikandang seorang diri keesokan harinya. Aku berjalan kaki dari Desa Neglasari dan aku tidak tersesat, padahal aku tidak hafal jalan, bahkan aku berjalan melalui jalan yang berbeda, bukan jalan sewaktu Sulton menjemputku.
Sungai Cikandang sangat indah, airnya deras, udaranya sejuk dan bebatuannya cantik. Banyak pepohonan rindang dan hijau disekelilingnya. Arusnya memang sangat liar, namun itulah hal yang menantang bagi semua orang.
Aku betah beralama-lama di sana, kalau saja sungai itu tidak berbahaya dan teman-temanku tidak mencariku karena khawatir, aku mungkin masih berdiam diri di situ dan menikmati pemandangan yang sangat amazing menurutku.
Aku sempat shalat dzuhur juga di atas batu, rasanya menakjubkan, beratapkan langit biru, beralaskan batu-batu, di depan mata adalah sungai indah yang mengalir, dan terdengar pula suara burung-burung yang hilir mudik. Luar biasa rasanya, hingga aku menciptakan sebuah sajak di sungai itu.
            Maret 2012, sehari setelah kakekku meninggal, aku harus kembali ke daerah pakenjeng, dekat sungai Cikandang atas permintaan Ustadz Surachman, pemilik pesantern, menurutnya, ada seorang Kiayi di daerah Pameungpeuk yang ingin bertemu.
Dengan kondisi fisik masih lelah, karena beberapa hari tidak tidur, aku berangkat ke sana seorang diri. Rahmat menjemputku setibanya di sana. Hari itu hujan. Bajuku basah kuyup, namun bukannya istirahat, tapi kita melanjutkan perjalanan menuju Pameungpeuk, tidak jauh dari Pantai Santolo dan itu hal tergila yang pernah aku lakukan karena aku tidak istirahat sama sekali, mulai ketika kakekku meninggal, lalu berangkat dari Rancaekek ke Garut Kota, kemudian lanjut ke Desa Neglasari dan berangkat lagi dengan menggunakan motor ke Pameungpeuk. Yang paling menyiksa itu jalanannya yang terjal dan curam karena merupakan daerah pegunungan, selain itu gelap pula. Kita tiba pukul dua belas malam dan menginap di rumah teman Ustadz Surachman sebelum esok harinya ke rumah Kiayi.
Setelah esok harinya berkunjung ke rumah Kiayi, aku diajak ke Pantai Santolo. Luar biasa, aku langsung jatuh cinta dengan pantai ini. Langitnya biru, pasir putih, ombak besar, karang-karang indah yang berjejer di pesisir. Menakjubkan. Aku terkesima dengan Pantai Santolo, apalagi jika kita datang bersama orang yang kita cintai, mungkin rasanya lebih dari sekedar indah, hehe.
Menjelang sore, kita pulang. Aku menginap di rumah Ustad Surachman bersama Imas yang tidak lain adalah pacar Sulton, setelah sebelumnya aku jatuh dari motor yang dikendarai Rahmat. Dia tampak sangat kaget ketika motor tiba-tiba jatuh ke pinggir. Kepalaku terbentur dan tangan serta kaki Rahmat berdarah. Itu pengalaman pertamaku jatuh dari motor dan lumayan pusing juga. Imas kemudian mengompres kening dan pundakku. Dia sangat baik, usia dia dan Sulton lebih tua satu tahun dariku, namun mereka memanggilku teteh. Sudah dua kali pula ketika berkunjung ke sini, Imas yang mencuci bajuku, padahal aku tidak memintanya.
Aku pulang ke Bandung setelah berpamitan dengan warga di sana. Alangkah baiknya mereka, karena aku pulang membawa oleh-oleh yang mereka berikan, ada kelapa muda sebanyak satu karung, opak,dll. Aku sungguh berterimakasih kepada warga di desa ini yang ramah, aku juga tidak akan pernah melupakan kegiatan mandi langsung dipancuran, karena rasanya segar dan membuat badan jadi rilex. Tapi, lebih dari itu, aku bahagia karena mempunyai banyak saudara baru ditempat asing yang baru aku pijak.
            Juli 2013, aku berencana KKN semester depan, mungkin bulan Agustus akhir atau Maret. Seperti rencana awal, aku ingin KKN di Perusahaan Susu Kedelai, karena aku juga ingin belajar lebih banyak tentang susu kedelai untuk meningkatkan usahaku. Mulanya aku kira perusahaan itu terdapat di Bandung atau Tangerang, namun kemarin setelah bertanya kepada salah seorang yang tahu perusahaan tersebut, ternyata perusahaan yang bersangkutan berada di Garut.
Luar biasa, lagi-lagi Garut. Sepertinya aku berjodoh dengan Kota ini. Garut juga telah membuatku jatuh cinta dengan beberapa hal yang dimilikinya, terutama alamnya.

            Kotaku kota tua,
            Tidak seperti kotamu yang muda..     
            Bentangan alam dari gunung perkasa..
            Laut nan biru lukisan samudra..
           
            Garutku, Garut Padjadjaran…
            Ada Santolo, Cikandang dan Sancang..
            Tempat jantungku melanglang berpetualang,
            Hilang..

Tuesday, July 30, 2013

Seharusnya Aku Mencintaimu



Dia memanggilku biru. Sudah satu tahun lebih aku mengenalnya. Banyak kata-kata indah yang dia uraikan untukku selama ini. Banyak airmata yang dia tumpahkan untuk menyayangiku dengan tulus. Aku tau, aku belum tentu bisa ada diposisi seperti yang pernah dia lakoni, mencintai orang lain yang tidak mencintainya, namun dia tulus berkorban apapun agar orang yang dicintainya bahagia.
Aku mengagumi kebaikannya selama ini. Aku ingin menyematkan kata “malaikat” untuk dia. Aku ingin sekali suatu saat memberikan kejutan yang membuatnya tersenyum bahagia. Aku simpati kepadanya.
            Hati memang tak pernah bisa diajak kompromi, padahal jika logika yang turut berperan dalam hal ini, mungkin seharusnya aku memilih dia, karena selama ini aku selalu bersandar kepadanya, susah ataupun senang, dia selalu ada dibelakangku, membantuku dengan sukarela. Dia adalah malaikat. Malaikat yang rela melihat orang yang dicintainya tergila-gila kepada orang lain, namun dia dengan setia masih berada di sana, dia adalah sebuah kedamaian, ketenangan hidup dan ketulusan.
Pernah suatu ketika, pacarku bermasalah dengan ibunya karena “rahasianya” terbongkar. Dia lalu tidak bisa dihubungi selama beberapa hari. Aku lalu khawatir, lalu meminta tolong kepadanya untuk menghubunginya melalui nomor rumahnya, dan dia mau. Luar biasa, dia tak pernah meminta timbal balik apapun agar aku mencintainya, dia hanya selalu berbuat dan berbuat agar aku mampu tersenyum lagi.
            Dia merupakan satu-satunya tempatku berkeluh kesah ketika aku bertengkar dengan pacarku. Dia dengan sabarnya selalu mendengarkan dan mengurangi bebanku. Dia adalah orang yang sangat berperan selama satu tahun ini. Ketika aku sakit dan tidak ingin minum obat, dia sampai berniat mengirimkan obat untukku, bahkan ketika aku mengikuti kompetisi di Bank Indonesia, dialah orang yang bekerja dibalik layar dan membantuku. Dia sangat baik.
Ketika itu aku tengah mengajar dan pulsa modemku habis. Aku harus menyelesaikan tulisan mengenai ide bisnis yang aku beri judul “Minuman Fermentasi Kacang Kedelai” dan dia yang memberikan referensi tentang kandungan gizi kacang kedelai, mesin yang dibutuhkan,dll.
Setelah itu, dia masih sama. Bahkan, ketika pesanan susu kedelaiku basi dan tidak mendapat ganti rugi, dialah satu-satunya orang yang empati kepadaku dengan tindakan yang nyata, dia langsung meminjamkan uang. Dan malam sebelumnya, dia sibuk meminta bantuan temannya yang merupakan anak IT untuk membantu mengerjakan tugas pacarku. Dia tahu bahwa aku tengah sibuk menyiapkan pesanan untuk esok harinya, namun pacarku tetap harus menyelesaikan tugas itu. Maka dari itu, dia dengan ikhlas membantu mengerjakan tugas membuat flowchart, meskipun pada akhirnya tidak selesai. Tapi kita sudah berusaha.
            Dia memanggilku biru. Entah berapa banyak hal yang telah dia perbuat untukku, namun aku heran kenapa rasa cinta itu tidak tumbuh juga. Hingga pada suatu titik, dia mungkin lelah dan bosan dengan perasaannya, dia menghilang sesaat. Jujur, aku begitu kehilangan.
Tapi tak lama, dia masih sama, di sana, meskipun dengan perasaan yang berbeda, namun dia tetap ada, mendengarkan setiap keluh kesahku. Hingga kini, aku tau dia masih peduli, meskipun perasaannya kini telah netral, tapi aku ingin sekali mengucapkan banyak terimakasih kepadanya. Kita belum pernah bertemu sekalipun, tapi sebuah keprcayaan telah terbangun begitu saja. Aku tau, hingga detik ini pun aku tidak mencintainya, namun aku ingin mengatakan satu hal kepadanya,
Seharusnya aku mencintaimu, tetapi cinta telah memilih jalannya sendiri, sehingga aku lebih memilih dia. Aku hanya bisa begini saja. Menjadi sahabat atau saudaramu, tapi aku sungguh berterimakasih. Terimakasih banyak, malaikatku, tetaplah sematkan kata “biru” untukku.””

Monday, July 29, 2013

Juli 2009 VS Juli 2013

-->

Awal bulan Juli 2009, di Panti Asuhan Darussalam. Aku dan anak-anak Manajemen mengadakan bakti sosial ke sana seraya merayakan ulang tahunku. Yang selalu aku ingat adalah, ketika aku memberikan potongan kue pertama kepadanya. Dia tampak bahagia, begitupun denganku. Hingga acara selesai dan aku tiba di rumah, dia kemudian mengirimkan sms kepadaku,
Dari dulu, aku ga suka kue tart, tapi tadi entah kenapa aku suka sekali, rasanya enak, mungkin karena kamu yang menyuapinya. Thanks ya sahabatku, aku bahagia.”


Pertengahan Juli 2009, setelah aku dan dia pulang mengahadiri resepsi pernikahan Mba Ida, kakak kelas kami, kita lalu berencana pergi ke kebun binatang berdua.
Setibanya di sana, penjaga kebun binatang itu mengira kita sudah janjian dengan pacar masing-masing yang telah menunggu di dalam, padahal dugaan itu salah, karena aku memang benar-benar pergi berdua.
Sore hari di Kebun Binatang Bandung memang terasa lain dan itu pengalaman pertamaku datang berdua ke sana dan sore hari pula. Banyak orang berpacaran dan hal itu membuatku terasa kikuk. Kita lalu foto-foto di sana, dan menjelang malam, kita makan berdua tidak jauh dari situ.
Anak-anak kosan merasa heran ketika kita pulang larut malam, padahal aku dan dia hanya pergi ke resepsi pernikahan. Kita lalu tersenyum dan tidak menceritakan bahwa kita pergi ke kebun binatang berdua. Anak-anak kosan lalu memintaku membeli makanan ke luar dan kita pun pergi berdua dan berniat makan kepiting. Sesampainya di kosan, anak-anak tampak kesal karena kita terlalu lama ke luar, kita pun cekikikan karena mereka tidak tahu bahwa kita telah makan kepiting tanpa mereka.
Aku kembali menatap sahabatku dan merasakan sebuah kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Dia pun tersenyum, kita lalu berpegangan tangan lalu terlelap. Damai rasanya dan aku berharap akan selalu seperti ini. Selalu, selamanya.


            Malam itu di Purwakarta. Akhir bulan juli 2009, dia tampak sumringah. Kita berjalan beriringan ketika tiba di Kota itu. Cukup lama, setelah turun dari bis dan angkot, lalu berjalan melewati pasar tradisional, aku tiba juga di rumahnya. Rumahnya tampak sepi, hanya ada ayah dan ibunya, serta burung kakatua dan ikan hias di aquarium. Setelah menyapa sebentar, aku langsung mandi karena udara cukup panas. Dia kemudian menyiapkan makanan dan duduk disampingku. Kita bercanda dan aku disuapi buah melon olehnya. Suasana malam itu begitu hangat. Aku selalu nyaman berada didekatnya. Kita lalu memperlihatkan handphone masing-masing satu sama lain, lalu membuka kotak masuknya. Aku terkejut karena sms di hp dia hampir penuh dengan sms dariku, begitupun denganku, dia juga terkejut karena kotak masuk di hpku juga hampir semuanya berisi pesan dari dia.
Aku ga pernah hapus sms-sms dari kamu.”
Ujarnya seraya tersenyum. Aku senang bukan main. Banyak kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang aku rasakan dengan sahabatku yang satu ini, Entah apa namanya, tapi dia pernah mengatakan satu hal yang membuatku merasa istimewa dalam hidupnya.
Aku merasakan hal yang lebih indah daripada jatuh cinta, itu aku rasakan semenjak bersahabat dengan kamu.”
Itu kata-kata yang tidak akan pernah aku lupakan sampai kapanpun.
Malam semakin larut, kita berbaring seraya menatap langit-langit kamar dan mendengarkan suara percikan air dari aqurium yang berada di samping jendela. Hening. Ada sesuatu yang menggelitik dalam dada, terasa menyejukkan, menggelitik dan begitu membuncah, mungkin itu yang dinamakan kasih sayang.
Dia kemudian tertidur, aku menatapnya yang tampak kelelahan. Dia tiba-tiba memelukku. Itu pelukan pertama yang aku rasakan ketika dewasa. Rasanya damai, aku pun memeluknya. Kita tidur berhadapan dan saling memeluk. Itu salah satu moment yang akan selalu aku ingat hingga kini, sebuah ketenangan dalam hidup, berada dalam pelukannya.
Keesokan harinya, kita berangkat ke pasar minggu, di sana ada sebuah danau yang ramai dikunjungi oleh penduduk, tapi aku lupa nama danaunya. Hari itu juga merupakan hari terakhir pameran, oleh karena itu, kita banyak membeli makanan di sana. Aku pergi dengan dia dan kakaknya. Setelah membeli beberapa bungkus makanan, kakak iparnya kemudian datang menjemput dan membawa tiga orang anak kecil yang tidak lain adalah keponakannya. Kita lalu pergi ke Curug Cijalu.
Sepanjang jalan, suasana begitu hangat karena kehadiran anak-anak itu. Aku dan dia duduk di belakang, namun kita saling berjauhan karena keponakan-keponakannya duduk diantara aku dan dia. Aku masih ingat lagu yang diputar kala itu. Aku lalu menatap ke luar jendela dan tersenyum kecil. Aku bahagia.
Dia selalu memegang erat tanganku ketika kita mulai mendaki bukit untuk tiba di Curug Cijalu. Cukup jauh memang dan ada beberapa air terjun kecil sebelum itu yang kita lewati. Jalanannya terjal, namun pemandangannya begitu indah, karena banyak perkebunan teh dan pepohonan yang masih rindang yang mengelilingi tempat itu.
Tiba di Curug Cijalu, aku terkesima melihatnya, begitu indah dan udaranyapun terasa dingin. Kita lalu foto-foto di sana. Dia kemudian menyuapiku buah lengkeng, lalu kita pun difoto berdua. Dia tampak ceria dan aku senang melihatnya.
Menjelang sore, kita pulang. Kita membeli kaos yang sama yang gambarnya monyet. Lucu memang, tapi kita menikmatinya. Kita lalu makan disebuah restoran tidak jauh dari situ. Seperti biasa, ketika ditanyakan pesan minum apa, aku sudah menebak bahwa dia akan memesan jus jambu merah dan dia pun sudah tau kesukaanku, jus strawberry.
Selesai makan, kita memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
Esok harinya kita pun pulang ke Bandung. Ibunya membuatkan kue untukku. Aku berpamitan dengan keluarganya.
Di dalam bis, kita masih bercanda dan berfose berdua. Wajahnya masih tampak kelelahan. Kita lalu berpisah sesampainya di Pasteur. Dia melambaikan tangan, lalu hp ku berbunyi, tanda ada sms masuk.
Aku bahagia, aku bakal kangen kamu banget.”
Aku tersenyum membaca sms dari dia.
Aku juga sama, thanks ya untuk semuanya. Aku sayang kamu sahabatku.”
Tak lama setelah aku membalas sms dari dia, dia pun membalas lagi,
Sama-sama, hati-hati dijalan, salam buat keluarga, aku juga sayang kamu. Aku ga pernah sebahagia ini dalam hidup.”
Aku menitikkan airmata membacanya. Sekali lagi aku ingin berteriak bahwa aku bahagia, sangat bahagia. Terimakasih Tuhan, bulan ini terasa begitu istimewa untukku. Terimakasih, aku bahagia.


            3 Juli 2013,
Ya udah kita putus, bye.”
Singkat, padat dan jelas. Itu pesan singkat yang aku terima setelah kita bertengkar cukup lama ketika aku baru saja selesai mengikuti bazar.
Kita sudah hampir delapan kali putus-nyambung dan seringkali aku yang memutuskan dia. Tapi kali ini lain, dia yang membuat keputusan, padahal usia hubungan kita baru saja berumur satu tahun, tanggal 19 Juni kemarin, namun kali ini kita harus berpisah. Aku shock dan sulit menerima kenyataan bahwa aku telah kehilangan.
            14 Juli 2013,
Dia tidak jadi datang ke Bandung, padahal hal ini sudah direncanakan cukup lama. Sakit rasanya. Hari ini aku pun tidak masuk kuliah dan mengurung diri di kamar. Tidak ada perayaan apa-apa, padahal setiap tahun aku ke panti asuhan. Tapi kali ini aku hanya berbaring dan menangis. Kecewa.
Malam harinya dia mengirimkan pesan agar aku membaca blognya. Aku terharu membacanya dan mengetahui bahwa dia masih menyayangiku. Itu saja, selebihnya dia tidak pernah mengubah keputusannya untuk putus denganku.
26 Juli 2013,
Aku menyerah. Aku belajar ikhlas untuk melepaskannya, walaupun terasa begitu sakit dan menyesakkan. Itu yang aku katakana kepadanya.
Setelah itu, nomornya tidak aktif dan bbmnya pun juga sama. Tidak ada kabar hingga sekarang. Dia pernah mengatakan bahwa hpnya terjatuh ke dalam closet, dan sudah dipastikan bahwa hpnya rusak. Kemarin adalah hari terakhir aku melihat twitter dia. Dia masih update dan tampak lebih ceria. Sedih rasanya, lalu aku memutuskan untuk menonaktifkan akun twitterku yang terakhir. Selesai?? Tidak, hingga kini, aku masih berharap agar dia kembali, tapi aku tidak mau mengatakannya dan aku rasa itu tidak perlu. Aku berusaha untuk memulai hidup baru, tanpa cinta atau apapun yang berkaitan dengan perasaan. Cukup rasanya bulan Juli 2013 ini aku mendapatkan kado istimewa berupa kesedihan yang berkepanjangan. Cukup, semoga hal ini dapat mendewasakanku. Tapi aku tak bisa membohongi hati bahwa aku sangat merindukan dia. Aku ingin dia menghubungiku, aku ingin bertemu lagi dengannya, karena aku mencintai dia.

Hanya cinta yang bisa
Menaklukkan dendam
Hanya kasih sayang tulus
Yang mampu menyentuh
Hanya cinta yang bisa
Mendamaikan benci
Hanya kasih sayang tulus
Yang mampu menembus
Ruang dan waktu


            Bulan Juli memang unik bagiku. Penuh warna, penuh rasa. Ada kebahagiaan, ada pula kesedihan. Ada dia dan ada kamu. Tapi apapun itu, intinya adalah bahwa kita harus selalu siap dengan apapun yang akan terjadi di depan kita, baik senang maupun sedih. Dan yang pasti adalah bahwa hanya Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita sedetik pun. Dia merupakan  Dzat paling setia yang mencintai kita. Jadi jangan menangis, ingatlah firman-Nya:
“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”
(QS. Ali ‘Imron: 173)