Garut
merupakan salah satu tempatku berpetualang dan mengukir kenangan. 2010, Pertama
kali aku menginjakkan kaki di sana bukan untuk berwisata, melainkan menjadi
seorang pembicara dalam seminar kewirausahaan yang dilaksanakan di STT.Garut.
Berangkat dari rasa percaya diri dan
pengalaman yang dimilki, aku lantas menawarkan kerjasama dengan STT.Garut untuk
mengadakan seminar. Aku tidak berangkat sendiri, melainkan dengan salah satu
staf dari Commonwhealth Insurance untuk
mengisi acara. Setibanya di sana, aku sedikit kaget karena peserta yang hadir
sekitar tiga ratus orang mahasiswa, kemudian ada dosen, dekan dan bahkan
rektor. Awalnya ada rasa nervous
ketika aku yang harus menjadi pembicara yang pertama sebelum pembicara dari
Commonwhealth, namun aku dapat mencairkan suasana dengan modal percaya diri
yang aku miliki, serta guyonan sederhana yang aku lakukan terhadap audience. Aku menjelaskan beberapa hal
yang penting ketika akan memulai untuk usaha, terutama keberanian, rasa percaya
diri dan dapat mengambil resiko. Aku juga menceritakan pengalamanku menjadi
seorang entepreneur yang dimulai
sejak bangku sekolah dasar. Selain motivasi-motivasi yang tidak lain merupakan
pengalaman pribadi, aku juga menjelaskan materi tentang pasar modal dan trading valuta asing yang banyak
diminati para pelaku bisnis. Audience
sangat antusias mendengar penjelasanku, terutama ketika aku menawarkan konsultasi
gratis untuk mereka yang ingin memulai usaha atau mencoba bisnis pada valuta asing dan komoditi. Banyak pertanyaan
yang mereka lontarkan ketika aku selesai menjelaskan tentang materi. Senang
rasanya karena respon di sini positif terhadap materi yang aku bawakan.
Usai seminar, aku di undang makan
bersama oleh bagian akademiknya. Mereka mengungkapkan rasa terimakasih karena
telah menyemangati para mahasiswa. Aku juga dinilai mempunyai rasa keberanian yang
tinggi untuk menjadi seorang pembicara dalam seminar, padahal usiaku masih 20 tahun, oleh karena itu, mereka
memberikan piagam penghargaan kepadaku. Aku bahkan ditawari untuk mengajar di
sana apabila telah lulus kuliah dan juga ada tawaran S2 gratis bagi para dosen
yang ingin melanjutkan pendidikannya, baik di Bandung, maupun di Jakarta
sebagai bentuk peningkatan kualitas para pengajar yang tidak lain adalah asset penting bagi sebuah lembaga
pendidikan.
Menyenangkan ternyata, menjadi seorang
pembicara dan dapat membagi pengalaman kita kepada orang lain adalah suatu hal
yang luar biasa dan membuat kita ketagihan, serta termotivasi untuk melakukan
hal yang sama dengan lebih baik lagi.
Awal
2011, aku kembali menginjakkan kaki di Kota Garut, kali ini juga bukan untuk berwisata,
melainkan untuk menjadi narasumber di salah satu radio di sana.
Nervous??
Tentu, meskipun ini bukan pertama kali aku menjadi narasumber di radio, karena
aku telah beberapa kali siaran di beberapa radio di Bandung, namun kali ini
lain, karena aku berada di Garut dan dengan materi yang berbeda, yaitu sebagai
seorang penulis, bukan entepreneur.
Beberapa orang pendengar kemudian
menelphone dan mengajukan pertanyaan. Lumayan banyak dan responnya positif. Aku
senang sekali. Dan satu hal, kali ini aku berangkat ke Garut seorang diri dan
pulang sekitar pukul tujuh malam.
Februari
2012, Aku tak pernah menyangka bahwa aku akan ke Kota Garut seorang diri dan
itu pun merupakan daerah pelosok yang jauh dari Kota. Sungai Cikandang, di
daerah Pakenjeng, Garut Selatan, merupakan salah satu tempat paling menantang
untuk melakukan arung jeram. Bermodal rasa ingin tau dan terbilang nekat, aku
berangkat ke sana seorang diri setelah menghubungi salah seorang teman yang
ternyata tinggal di daerah itu.
Aku berangkat dari Rancaekek dengan
kendaraan umum, dan turun di Tarogong, kemudian naik angkot dan disambung
dengan elf, hingga tiba di pangkalan
ojek sebelum sungai Cikandang, temanku Sulton menjemputku. Aku tiba menjelang
magrib dan jalanan agak licin karena hujan. Awalnya aku ragu untuk dibonceng
olehnya, karena jalanannya menanjak, terjal, licin dan curam, sangat berbahaya.
Kita beberapa kali jatuh karena barang bawaanku cukup banyak dan menurut
temannya, Sulton baru pertama kali belajar motor di daerah ini dan dia juga pertama kali pula membonceng
seorang perempuan.
Banyak hal yang terjadi selama di sana,
namun tak perlu aku ceritakan dengan detail. Intinya, aku menemukan banyak
saudara baru, baik dari warga setempat yang sangat welcome, juga dari para ustadz dan santri salah satu pesantren di
sana. Dan peristiwa paling penting yang aku alami adalah ketika aku turun ke
Sungai Cikandang seorang diri keesokan harinya. Aku berjalan kaki dari Desa
Neglasari dan aku tidak tersesat, padahal aku tidak hafal jalan, bahkan aku
berjalan melalui jalan yang berbeda, bukan jalan sewaktu Sulton menjemputku.
Sungai Cikandang sangat indah, airnya
deras, udaranya sejuk dan bebatuannya cantik. Banyak pepohonan rindang dan
hijau disekelilingnya. Arusnya memang sangat liar, namun itulah hal yang
menantang bagi semua orang.
Aku betah beralama-lama di sana, kalau
saja sungai itu tidak berbahaya dan teman-temanku tidak mencariku karena
khawatir, aku mungkin masih berdiam diri di situ dan menikmati pemandangan yang
sangat amazing menurutku.
Aku sempat shalat dzuhur juga di atas
batu, rasanya menakjubkan, beratapkan langit biru, beralaskan batu-batu, di
depan mata adalah sungai indah yang mengalir, dan terdengar pula suara
burung-burung yang hilir mudik. Luar biasa rasanya, hingga aku menciptakan
sebuah sajak di sungai itu.
Maret
2012, sehari setelah kakekku meninggal, aku harus kembali ke daerah pakenjeng,
dekat sungai Cikandang atas permintaan Ustadz Surachman, pemilik pesantern,
menurutnya, ada seorang Kiayi di daerah Pameungpeuk yang ingin bertemu.
Dengan kondisi fisik masih lelah, karena
beberapa hari tidak tidur, aku berangkat ke sana seorang diri. Rahmat
menjemputku setibanya di sana. Hari itu hujan. Bajuku basah kuyup, namun
bukannya istirahat, tapi kita melanjutkan perjalanan menuju Pameungpeuk, tidak
jauh dari Pantai Santolo dan itu hal tergila yang pernah aku lakukan karena aku
tidak istirahat sama sekali, mulai ketika kakekku meninggal, lalu berangkat
dari Rancaekek ke Garut Kota, kemudian lanjut ke Desa Neglasari dan berangkat
lagi dengan menggunakan motor ke Pameungpeuk. Yang paling menyiksa itu
jalanannya yang terjal dan curam karena merupakan daerah pegunungan, selain itu
gelap pula. Kita tiba pukul dua belas malam dan menginap di rumah teman Ustadz
Surachman sebelum esok harinya ke rumah Kiayi.
Setelah esok harinya berkunjung ke rumah
Kiayi, aku diajak ke Pantai Santolo. Luar biasa, aku langsung jatuh cinta
dengan pantai ini. Langitnya biru, pasir putih, ombak besar, karang-karang
indah yang berjejer di pesisir. Menakjubkan. Aku terkesima dengan Pantai
Santolo, apalagi jika kita datang bersama orang yang kita cintai, mungkin
rasanya lebih dari sekedar indah, hehe.
Menjelang sore, kita pulang. Aku
menginap di rumah Ustad Surachman bersama Imas yang tidak lain adalah pacar
Sulton, setelah sebelumnya aku jatuh dari motor yang dikendarai Rahmat. Dia
tampak sangat kaget ketika motor tiba-tiba jatuh ke pinggir. Kepalaku terbentur
dan tangan serta kaki Rahmat berdarah. Itu pengalaman pertamaku jatuh dari motor
dan lumayan pusing juga. Imas kemudian mengompres kening dan pundakku. Dia
sangat baik, usia dia dan Sulton lebih tua satu tahun dariku, namun mereka memanggilku
teteh. Sudah dua kali pula ketika
berkunjung ke sini, Imas yang mencuci bajuku, padahal aku tidak memintanya.
Aku pulang ke Bandung setelah berpamitan
dengan warga di sana. Alangkah baiknya mereka, karena aku pulang membawa
oleh-oleh yang mereka berikan, ada kelapa muda sebanyak satu karung, opak,dll.
Aku sungguh berterimakasih kepada warga di desa ini yang ramah, aku juga tidak
akan pernah melupakan kegiatan mandi langsung dipancuran, karena rasanya segar
dan membuat badan jadi rilex. Tapi,
lebih dari itu, aku bahagia karena mempunyai banyak saudara baru ditempat asing
yang baru aku pijak.
Juli
2013, aku berencana KKN semester depan, mungkin bulan Agustus akhir atau Maret.
Seperti rencana awal, aku ingin KKN di Perusahaan Susu Kedelai, karena aku juga
ingin belajar lebih banyak tentang susu kedelai untuk meningkatkan usahaku.
Mulanya aku kira perusahaan itu terdapat di Bandung atau Tangerang, namun
kemarin setelah bertanya kepada salah seorang yang tahu perusahaan tersebut,
ternyata perusahaan yang bersangkutan berada di Garut.
Luar biasa, lagi-lagi Garut. Sepertinya
aku berjodoh dengan Kota ini. Garut juga telah membuatku jatuh cinta dengan
beberapa hal yang dimilikinya, terutama alamnya.
Kotaku kota tua,
Tidak seperti kotamu yang muda..
Bentangan alam dari gunung perkasa..
Laut nan biru lukisan samudra..
Garutku, Garut Padjadjaran…
Ada Santolo, Cikandang dan Sancang..
Tempat jantungku melanglang berpetualang,
Hilang..



