Tuesday, April 30, 2019

Bersahabat dengan Istighfar


    Akhir-akhir ini, aku sedang mengalami sebuah proses penting dalam hidup yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya, yaitu ketika aku bisa berkenalan lebih jauh dengan istighfar.
   
    Berawal dari rasa hampa yang berkepanjangan, sedih yang tanpa sebab, sesak yang seakan merenggut nyawa, lalu kemudian istighfar datang dan menjadi obat penenang bagi segala keluh kesahku selama ini. Istighfar yang terus disebut dalam setiap hembusan nafas, seraya mengingat akan semua dosa dan menyesalinya, membuat semua beban yang aku pikul saat ini terasa sangat ringan,

    Ini bukanlah istighfar biasa seperti yang pernah aku lakukan dahulu. Ini bukanlah istighfar dan taubat sambal yang seringkali menjadi pelampiasan saat aku “sendiri”, bukan pula istighfar dan taubat karena ustadz atau sahabat-sahabat dekat, tapi yang aku rasakan sekarang seperti sesuatu yang muncul dengan sendirinya dalam diri. Istighfar yang muncul bukan karena ancaman neraka atau iming-iming syurga, tapi istighfar yang datang karena kepasrahan pada Dzat yang selama ini seringkali dikhianati berkali-kali.

    Dan ajaib, saat kita mendahulukan Dia dalam segala urusan, Dia malah memudahkan semua urusan kita. Ini sangat kontras dengan yang aku lakukan dulu, di mana dulu aku mengutamakan hal-hal duniawi terlebih dahulu, baru mengingat Dia, itupun sekedar kewajiban atau ketika aku memiliki banyak masalah, tapi kini aku mencoba melakukan segala sesuatu untuk mencari ridha-Nya dan hasilnya luar biasa. Aku tidak pernah mengira bahwa dengan kita terus beristighfar, bertaubat dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan mengutamakan Dia, bisnis jadi lancar tanpa diduga, barang dagangan laku setiap harinya dan nasabah datang sendiri tanpa aku mati-matian menjelaskan.

    Ini kali pertama aku menitikkan airmata padahal sedang tidak bersedih. Bahwa sangat luar biasa, semua yang aku perjuangkan mati-matian dulu, justru kini berdatangan satu persatu saat aku hanya meminta pengampunan dan ridha-Nya.

    Apa yang aku lihat, aku dengar, aku rasakan, aku lakukan kini juga sedikit demi sedikit mulai berubah. Betapa damainya hati saat mendengar ceramah Quraish Shihab tentang penyakit hati. Betapa terharunya qolbu saat mendengar ceramah ustadz-ustadz di youtube tentang kisah-kisah keajaiban istighfar.

    Aku seperti berada dalam fase baru dalam hidup ini. Betapa bersemangatnya kini saat akan ke luar rumah, entah ke toko atau ke kantor, atau sekedar silaturahmi ke manapun. Semangatku kini bukan karena uang, tapi karena ingin mencari ridha-Nya. Dia akan sangat senang dengan orang yang berikhtiar setiap harinya. Dan luar biasa, saat aku menunggu toko, rasa jenuh itu hilang karena aku menjadikan toko sebagai tempat untuk menyendiri seraya muhasabah dan merenungi kandungan ayat-ayatnya. Aku baca tafsir saat sedang menunggu toko, tanpa berpikir bahwa aku tengah berjualan, tapi hasilnya ajaib, pembeli terus ada setiap harinya, entah yang datang ke toko atau pembeli online.

    Jika aku urai satu persatu tentang dahsyatnya istighfar ini, mungkin tulisannya akan sangat panjang. Tapi, intinya kita harus menemukan hidayah dan kesadaran itu oleh dan dari diri kita sendiri, bukan orang lain. Aku menuliskan ini, bukan sebagai bentuk ujub atau riya, tapi sebagai bentuk rasa syukurku pada-Nya yang telah menganugerahkan perasaan damai ini sekarang. Aku juga menulis ini sebagai harapanku kepada siapapun yang tengah membaca tulisanku agar segera menjemput rasa damai itu lebih cepat daripada yang aku lakukan, karena kita hanya punya “hari ini” dan “esok” belum tentu. Jangan sia-siakan harta berharga yang kita miliki sekarang, yaitu waktu.




Monday, April 22, 2019

TELUNJUK MALAM


    Langit berduka di balik celah jendela. Mata yang mengintip mereka yang tengah berpesta pora. Mata yang lalu menghujami hati dengan perihnya yang lirih.
Mereka tertawa seakan menandai harapanku yang masih berupa angan-angan.
Si hitam itu, ibarat kelas dimana takhta tengah dimahkotai. Seperti jubah sombongnya yang selalu menengadah ke atas dan berkata tentang kemenangan.

    Ayahnya adalah raja. Dia merangkul dan memeluk anaknya dengan hati dan materi, sedang ayahku entah apa. Mungkin dia hanya pujangga kata-kata yang seringkali berkata dusta dan berperangai otoriter seperti prajurit militer.

    Hingga cuplikan-cuplikan masa kecil itu lambat laun membentuk bendungan airmata, dia masih saja berjalan tegap dengan senjata dan perintah-perintah. Memerah hati tanpa imbalan apa-apa. Menebar janji, tapi mengingkari. Merangkul sinis, lalu melukai.

    Aku lelah, jadi biarkan saja aku melihatmu seperti pecahan-pecahan kaca yang tak utuh, yang hanya bisa dipakai untuk membunuh, bukan untuk bercermin atau berkata “aamiin”.

Sunday, April 21, 2019

Pilpres 2019 dan Sentimen Anti Cina



    “Jokowi atau Prabowo?”
    Sebelum menjawab pertanyaan di atas, aku ingin menjelaskan sedikit perjalananku ketika awal mula mengagumi sosok Pak Jokowi. Berawal ketika Pak Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta dan memimpin dengan cara yang berbeda, dari situ aku mulai kagum dengan sosoknya. Hingga pada tahun 2014, ketika sedang berada di Jakarta, aku berbincang-bincang dengan seorang sopir TAXI ketika dalam perjalanan menuju Kampus BINUS. Yang kita bicarakan adalah tentang sosok Pak Jokowi. Semua yang dibicarakan oleh sopir maupun olehku adalah tentang hal-hal positif ketika beliau memimpin Kota Jakarta. Bahkan aku dan Bapak sopir berandai-andai kalau saja Pak Jokowi menjadi Presiden, tentu akan membawa banyak perubahan bagi negeri ini. Saat itu aku benar-benar iri dengan warga Jakarta yang sudah dipimpin oleh sosok seperti Pak Jokowi.

    2014, Harapan aku dan Bapak sopir itu jadi kenyataan, Pak Jokowi kemudian menjadi presiden. Aku bersyukur bukan main, terlebih lagi ketika Pak Jokowi memimpin, banyak sekali kemudahaan yang didapatkan oleh para pelaku UMKM sepertiku untuk mengurus legalistas usaha atau bahkan mendapatkan bantuan usaha tanpa syarat yang sulit.

    Hingga kemudian aku bergabung dengan perusahaan Z, Agency Director, Bu Nisa dan beberapa orang dalam timku sangat anti terhadap Pak Jokowi, bahkan yang paling fatal, Bu Nisa sangat anti dengan orang-orang bermata sipit, padahal dia sendiri berkulit putih dan bermata sipit, meskipun dia bukan keturunan tionghoa, tapi dia adalah orang Palembang. Menurut penuturannya, dia pernah mengalami pengalaman pahit dengan orang tionghoa, hal ini berkaitan dengan karier suaminya dulu di perusahaan yang lama. Tapi, apapun alasannya, aku tidak membenarkan sama sekali sikap rasis seperti itu, apalagi setiap kita bertemu, dia seringkali menjelek-jelekan sikap orang-orang keturunan tionghoa di Indonesia.
Sikap Bu Nisa, sangat bertolak belakang dengan sikap Bu Heni (orang yang membawaku ke Perusahaan ini). Di dalam tim Bu Heni, ada orang tionghoa dan beragama budha dan Bu Heni lebih bisa menerima perbedaan apapun dari anggota timnya.

    Hingga suatu ketika , aku membawa E ke perusahaan ini. Sikap Bu Nisa sangat berbeda sama sekali. Di depan E, dia antusias untuk merekrut E masuk ke dalam timnya. Menurutnya, orang tionghoa banyak yang sukses dengan lebih cepat di perusahaan ini yang memang rata-rata lebih banyak orang tionghoa.
Aku sempat kecewa saat itu, terlebih ketika dia membicarakan aku kepada E mengenai sikap aku yang kurang tegas dan mudah kasihan kepada orang lain. Bu Nisa mulai menaruh harapan besar kepada E, karena E terlihat sangat tegas.
Sebagai orang dekat aku, E tidak mau menusuk dari belakang. E kemudian menceritakan hal itu kepada aku. Sontak aku marah dan menegur Bu Nisa meskipun E melarangnya. E tidak ingin bergabung di perusahaan ini jika dia hanya dijadikan rival aku, karena dia hanya ingin hubungan dengan aku baik-baik saja, tidak lebih. Karena terpancing emosi, aku kemudian keceplosan kepada E bahwa Bu Nisa itu anti orang cina. Namun, kemudian aku meralatnya, tapi dia terlanjur mempercayainya. Dia bilang bahwa dia tahu dan dia tahu kalau keberadaannya diharapkan di perusahaan tersebut hanya untuk sebuah kepentingan saja.
Karena hal ini, aku sempat marah kepada Bu Nisa, meskipun akhirnya kita saling memaafkan karena aku tidak tega melihatnya menangis.

    Masalah aku, E dan Bu Nisa yang aku kira selesai, ternyata belum selesai. Ketika aku dan E sedang mengikuti pelatihan Shopee di Universitas Kristen Maranatha, E sempat mengadu kalau Bu Nisa hanya memanfaatkan dia. E terlihat emosi, namun saat aku tanya alasannya, ternyata tidak seperti yang aku bayangkan. Bu Nisa hanya menanyakan kabar neneknya, karena seminggu sebelumnya saat E harus mengikuti ujian (aku sudah membayar ujian untuk dia), namun E tidak datang karena neneknya jatuh di kamar mandi dan harus dirawat. Dan setelah E menjawab bahwa neneknya sudah baikan, maka Bu Nisa menjawab alhamdulilah dan mengatakan kalau E sudah bisa beraktivitas seperti biasa lagi.
Dari percakapan ini, aku tidak bisa menyimpulkan kalau Bu Nisa memanfaatkan dia. Aku pikir sangat aneh kalau E mengira Bu Nisa memanfaatkan dia hanya dari percakapan sederhana ini. E sampai begitu emosional dan mengatakan kalau neneknya bukan orang sembarangan, dll. Aku yang saat itu mengatakan bahwa anggapan dia salah, dia malah berbalik marah kepadaku dan menganggap aku membela Bu Nisa. Dan inilah awal mula dia pulang sendiri untuk datang ke rumah produksi di Lembang pertama kalinya, sedangkan aku pulang dan tidak menggubris dia yang marah tanpa alasan yang jelas.

    Kembali pada topik di atas, sentimen anti cina yang terjadi dengan Bu Nisa atau sebagian besar orang-orang di Indonesia terlihat dengan begitu jelas. Hal ini dilatarbelakangi oleh kesenjangan sosial antara orang cina dan penduduk asli Indonesia, terutama dibidang Ekonomi. Hal itulah yang kemudian dijadikan alasan mereka membenci orang cina. Menurut mereka, sikap orang cina yang semena-mena, licik, pelit, dll sangat merugikan orang-orang Indonesia asli. Kebencian ini kemudian berimbas pada demo besar-besaran terhadap Ahok karena penistaan agama, disamping dia seorang cina dan beragama kristen.

    Hingga masuk pada pemilihan Gubernur Jawa Barat pada tahun 2018 dan pemilihan presiden pada tahun 2019, orang-orang islam garis keras, masih menganggap partai tertentu paling islami, sehingga mereka wajib memilih calon yang partai itu usung. Seperti ketika pemilihan Gubernur, mereka banyak membujuk untuk memilih calon yang kelak akan mendukung Prabowo, sedangkan aku malah memilih Ridwan Kamil yang menurut mereka justru akan menguntungkan Jokowi kelak. Aku tidak suka sikap mereka yang begitu. Menganggap diri paling islami dan paling benar dimata Tuhan. Selain memilih Pak RK, saat itu juga aku menjadi saksi untuk calon Gubernur tersebut hingga akhirnya menang.

    Berlanjut pada pemilihan presiden, para pendukung Prabowo banyak sekali yang menyebut Jokowi anti islam, Jokowi pro Cina,dll dan banyak sekali kejelekan-kejelekan yang belum terbukti sama sekali. Lebih mirisnya, mereka selalu membawa-bawa agama, padahal Pak Jokowi sendiri orang islam dan wakilnya juga islam, tapi mereka menganggap partai dan pasangan lain lebih islami dan lebih benar dibanding Pak Jokowi.
Aku sangat geram dengan Pilpres kali ini, bagaimana tidak, setelah banyak tuduhan-tuduhan negati, fitnah dan terakhir deklarasi kemenangan padahal KPU belum memutuskan, aku semakin tidak suka dengan sikap pasangan itu. Apakah Prabowo sangat berambisi sekali sampai harus bersikap seperti saat ini? Dan apakah sikap orang-orang islam garis keras dibelakangnya yang ngotot mendirikan khilafah dan negara islam masih dengan sombongnya menganggap mereka paling islami dan benar dimata Tuhan? Padahal keimanan seseorang hanya Allah yang tahu.

    Karena aku memang mendukung Jokowi, 2018 aku masuk Organisasi Jokowi Mania dan ditunjuk menjadi sekjen, meskipun kemudian aku tidak melanjutkannya karena terlalu banyak kegiatan, maka pada tahun ini, aku dan orangtuaku jelas memilih beliau. Kami bahkan sangat kagum juga dengan Ahok, terlepas dari kasus penistaan agama yang dia lakukan, karena menurut kami, kinerja Ahok sebagai Gubernur sudah sangat baik. Mulanya aku adalah fans dari Anies Baswedan ketika masih aktif dalam Organisasi Indonesia Mengajar, tapi ketika beliau mencalonkan diri menjadi Gubernur dan membawa isu agama dan ras dalam kampanyenya, maka aku mulai tidak suka dengannya.

    Jokowi dan Ahok adalah sebuah fenomena baru dalam pemerintahan Indonesia. Meskipun Ahok kemudian berakhir dalam Jeruji besi dan Jokowi kini diserang oleh fitnah dan keganasan tuduhan-tuduhan, tapi aku yakin bahwa Allah tidak tidur. Dia akan selalu melindungi orang-orang yang berada dalam jalan yang benar. Dan masalah siapa yang akan dilantik menjadi presiden, itu sudah menjadi takdir dari-Nya yang harus bisa diterima dengan lapang dada. Dan satu hal lagi, semoga sentimen anti cina sudah tidak terjadi lagi di negara majemuk ini, karena apapun ras dan agama kita, kita adalah bangsa Indonesia, sebuah negara dengan rakyat yang beraneka ragam. Kita juga harus ingat bahwa dihadapan Tuhan kita semua sama, karena yang membedakan hanya ketakwaannya saja. Dan kita tidak pernah tahu apakah kita sudah benar-benar bertakwa dan diterima di sisi-Nya atau tidak, wallahuallam, jadi jangan merasa diri paling beriman.

*Sambil mendengarkan lagu Ari Lasso, Lirih.





KACAMATA

With E memakai kacamata gold


    Pagi tadi frame kacamata ibuku patah. Ia lalu memintaku untuk ke optik mengganti framenya saja. Aku dengan senang hati pergi ke optik sendiri dan mengganti frame kacamata ibuku dan tidak menunggu hingga lima menit, kacamatanya sudah bisa dipakai. Aku sekaligus mengganti dua frame milik ibuku sebagai cadangan kalau-kalau yang satu patah.
Berbicara tentang kacamata, akhir-akhir ini aku beberapa kali mengganti kacamata, padahal dari dulu aku jarang mengganti kacamata dan kalaupun aku membeli kacamata baru, itu bukan karena rusak framenya, tapi karena minusnya bertambah, namun kemarin-kemarin aku membeli beberapa kali kacamata karena framenya patah dan itu pun E yang tak sengaja membuatnya patah.

Kacamata black n white yang awet dari 2014. With T Devi 2017, tembem banget tahun ini 😆

    2014 saat aku masih menjalin hubungan dengan Jingga, aku membeli kacamata dengan frame hitam putih. Ini adalah kacamata yang paling aku sukai dan kacamata ini lumayan bertahan lama. Kemudian pada awal tahun 2018, aku membeli kacamata bulat yang sedang trend, namun aku tidak suka frame plastik berwarna hitam atau corak leopard untuk model kacamata bulat kekinian, maka dari itu aku memilih frame dengan bahan titanium berwana silver. Aku sangat menyukai kacamata ini, namun pada akhir tahun 2018, saat aku memasukan kacamata ke dalam saku blazer, E menariknya karena dia khawatir patah, dan bukannya berhasil, tapi malah patah karena frame titanium itu tipis. Aku sempat kesal, tapi aku diam saja. Mulanya aku mengira hanya lepas bautnya saja, tapi ternyata ada bagian dari ujung sudutnya yang hilang.
Aku dan E kemudian berburu kacamata di Jl ABC Bandung yang terkenal dengan pusat kacamata murah. Aku dan E kemudian memilih satu kacamata bulat, tapi semi oval, dengan double frame segilima dan dengan paduan warna gold dan violet. Harganya tidak murah juga, namun tidak semahal di optik langgananku. Aku kemudian mengganti kaca untuk frame yang hitam putih sekalian untuk cadangan kalau-kalau yang satu patah.

Kacamata silver yang patah
Saat di Subang dengan T linda dan Lilih

    Saat memakai helm, aku tidak memakai kacamat gold itu karena takut patah, tapi aku memakai kacamata hitam putih yang sudah aku ganti kacanya. Namun, tak berlangsung lama, karena ketika aku shalat di masjid Tionghoa yang berada di dekat jalan Braga, tanpa sengaja E mendudukinya ketika aku sedang shalat, sehingga framenya patah dan kacanya lepas.
Lagi-lagi aku kesal karena dua kacamata yang patah oleh dia adalah kacamata yang lumayan mahal. Tapi, mau diapakan lagi, aku kemudian pulang memakai kacamata gold yang sebetulnya kurang membuatku PD, entah kenapa aku kurang percaya diri memakai kacamata itu, padahal menurut semua orang kacamata itu bagus.

Kacamata gold. With T Linda




    Karena kacamataku tinggal satu yang gold itu, maka aku kemudian membeli lagi kacamata plastik warna hitam dengan bentuk kotak yang ujungnya bisa dilipat untuk aku pakai sehari-hari saat berkendara, sedangkan kacamata warna gold aku simpan sebagai cadangan. Dan tadi juga aku memperbaiki kacamata silver yang patah oleh E, karena ternyata di optik tadi bisa diperbaiki. Begitulah aku, saat menyukai satu benda, aku tak bisa begitu saja menggantinya. Seperti kacamata silver yang rusak, aku memilih memperbaikinya lagi, sedangkan kacamata gold yang juga mahal dan teman-temanku bilang bagus, aku jarang memakainya karena kurang percaya diri, dan aku memakainya sekali-kali saja atau ketika kacamata yang lain sudah tidak layak pakai.



    Memakai kacamata memang kadang melelahkan. Dikeluarga, hanya aku dan ibuku yang memakai kacamata. Aku memakai kacamata ketika kelas satu SMP dan sampai sekarang minusnya bukannya berkurang tapi malah bertambah. Sempat mataku ingin dioperasi lasik, tapi aku belum yakin, selain minus aku belum terlalu besar, aku juga takut dengan operasi. Minus aku sekarang adalah dua dan mata kanan entah kiri ada silindrisnya, sedangkan ibuku sudah minus 11. Solusi lain selain lasik  atau kacamata, adalah memakai softlense, tapi lagi-lagi aku takut memasukan sesuatu ke dalam mata, apalagi aku adalah orang yang pelupa, berbeda dengan adikku, walaupun matanya tidak minus, dia seringkali memakai softlense sejak SMA.

    Aku seharusnya bersyukur dengan keadaan mataku sekarang. Aku masih bisa melihat dengan normal, tidak buta. Aku masih bisa membeli kacamata yang aku mau. Memang ketika kita bisa bersyukur dengan apapun yang kita miliki sekarang, maka kita tidak akan mengeluh sedikitpun, tapi justru kita akan merasa bahagia dan berterimakasih pada-Nya atas semua yang Dia berikan hingga saat ini

Jika kalian mau bersyukur, maka Aku sungguh akan menambah nikmat bagi kalian.
(QS. Ibrahim: 7)  (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 124)



Friday, April 19, 2019

Pejuang Subuh



    Ada yang sejuk diantara kantuk yang bergelayut mengamini dzikir airmata dan sajak-sajak penyesalan yang berkidung tanpa kata-kata.
Rima, irama dan baitnya serupa syair yang baru saja terbangun dari tidur panjang akan pemujaan-pemujaannya pada nafsu liar yang berkedokkan rasa dan nama-nama lain yang mereka sebut cinta.
Dalam nafas-Nya, ada haluan yang mengetuk-ngetuk lembut, membelai dengan kalimat ketulusan, merangkul tanpa beban dan memaafkan tanpa ada sedikitpun dendam.

    Pada alinea baru itu, kadang-kadang iman serupa gelombang yang tak bisa ditebak arusnya. Tak bisa dipastikan frekuensinya. Di dasar ataupun di atas, kadang iman terombang-ambing mengutuk-ngutuk rasa, meskipun lebih banyak ia memujanya tanpa syarat.
Rasa ibarat candu yang kerap membuainya hingga tertidur pulas dan lupa jalan pulang. Rasa yang kemudian mengerucut menjadi pemujaan yang tanpa sadar melemparkannya pada kehampaan tanpa garis waktu.

    Dan entah akan sampai di titik mana iman bisa bersikukuh dengan tekadnya berjuang diantara kobaran cahaya subuh. Berjalan dan bertindak hanya untuk patuh pada apa yang Dia perintahkan, bukan pada  apa yang dirinya inginkan.
Dan entah pada episode mana drama dari pertentangan itu bisa diakhiri. Fase dimana iman dan nafsu bisa menemukan titik temu. Titik yang mengawali kata sepakat untuk kemudian melenyapkan salah satu diantara keduanya dan menyuburkan yang lainnya. Titik dimana diri mulai menamai sosoknya sebagai hamba atau menamainya sebagai ahli neraka.

    Kadang-kadang ketulusan tidak perlu iming-iming kesenangan atau ancaman hukuman dan ketakutan. Seperti syurga atau neraka yang kerapkali menjadi pemanis diantara peliknya dorongan syahwat yang berkali-kali lepas kendali.
Ibarat mentari yang menyinari bumi tanpa henti atau oksigen yang hilir mudik mempertahankan nafas seseorang. Mereka terus menerus bekerja sesuai perintah-Nya, tanpa ada satupun yang berharap tentang syurga atau takut akan neraka.
   
    Dan diantara subuh yang baru saja terbuka, nafsu tak bisa lagi berkelakar menyesakkan dada. Nafsu tak bisa lagi memenjarakannya pada ruang tanpa kepastian akan rasa bahagia. Nafsu yang baru saja menjadi bagian dari masalalu, sedang ketaatan pelan-pelan mulai menjadi tujuan hidup.

Subuh ini,
Dan fajar segera menyingkap tabir dluha sebentar lagi.

Apa yang sesak dalam dada?
Apa yang kau panjatkan diantara airmata?

Sesalmu akan dosa atau candumu tentang nafsu?
Dia tahu, apa yang bergejolak dalam debaran..
Dia pun tahu, apa yang sejuk dalam iman..

Apapun itu,
Amini yang kini tengah menguasai hati
Dan hadang “lalai” yang baru saja pergi.

Bawa saja iman dan ketaatan sebagai perisai diri.
Tangkap gelombangnya dan catat frekuensinya!
Dan kau akan tau rasanya hidup kali ini,
Sekali lagi..









   

Saturday, April 13, 2019

DUPLIKASI WAKTU





    Kapan waktu bisa beristirahat dengan sukarela? Dan membiarkan ketakutan hidup dalam dimensinya yang lain. Seperti khayalan yang kerapkali menduplikat dirinya sendiri dan memenjarakan dunia nyata dari wajah yang tak ingin ia jumpai pada setiap pagi.


    Jam berapa sekarang? Lihat tarian jam itu. Mungkin kini aku masih terjaga pada ruang dimana waktu masih bersikukuh berjalan pada putarannya dan tak pernah memberikan jeda pada rasa cemas untuk menghela nafasnya beberapa menit saja.
Ambil jam tanganmu dan ikuti aku pada dunia yang tak ada sekat dan batas di dalamnya!
Aku ingin beristirahat di sana tanpa ada siluet ketakutan itu.
Bergegaslah!
Aku akan segera menunjukannya.
   
    Dan diantara dimensi itu, ada ruang dimana aku bisa berjalan dengan tenang. Berjalan pada babak-babak yang aku ciptakan sendiri dengan wajah-wajah yang aku inginkan selama ini. Dan setiap episode menyimpan ceritanya sendiri. Cerita yang fasih aku tuturkan seperti dongeng yang berulangkali dibacakan sebelum tidur. Seperti rangkaian drama yang sengaja aku mainkan di atas pentas khayalanku tanpa ada yang protes atau mengubah alurnya sedikitpun.


    Aku ingin hidup di sana, di mana waktu mulai terbiasa menduplikasi dirinya untuk membuat waktu lain yang bisa berhenti sesaat atau berbalik arah dan memperbaiki apa yang salah di sana.
Aku ingin waktu dengan wajah yang berbeda yang bisa mengajakku berwisata pada dimensi yang mereka katakan dusta.
Aku ingin menjelajah pada wilayah yang orang-orang katakan salah.
Aku ingin menduplikat diriku dan membuat hari lain tanpa adanya waktu.
Aku ingin mengubah masalalu.


    Tak ada sesal pada hari di mana matahari berulangkali mengucapkan selamat pagi. Tak ada gelisah di mana pahatan itu lambat laun berubah menjadi darah. Tak ada yang marah pada rangkaian kisah yang mereka katakan sejarah.

    Hanya saja kali ini aku sudah begitu lelah, namun beban-beban itu masih saja merangkul jiwa lemah yang kerapkali terbangun sebagai bagian dari masalah.
Sedang dunia tengah bertepuk tangan dengan gaya hedonismenya di balik topeng-topeng wajah susah. Dan mereka masih saja membohongi dirinya sendiri dengan sangat hati-hati. Mereka mengira bahagia bisa dibeli dengan puisi atau setumpuk prestasi. Mereka menganggap kasih sayang bisa ditukar dengan uang atau barang-barang. Dan kali ini mereka menang, karena memang bahagia dan kasih sayang mulai terbiasa dengan materi yang membuatnya semakin lupa diri.


    Dan pada dimensi waktu lain yang mereka anggap keliru, aku ingin menghidupkan kembali diri menjadi perisai yang tak lagi berseteru dengan rindu. Aku ingin berpisah dengan ketakutan itu dan melepas resah yang seringkali berulah dan marah.


    Jadi, ijinkan kali ini aku menduplikasi waktu dan menghilangkan diriku sendiri. Aku ingin menjadi cahaya dan berbahagia diantara pusara doa dimana mereka berkata-kata dengan tetesan airmata. Ijinkan aku tinggal diantara kenangan yang mulai mereka rindukan sebagai rintihan kehilangan.
Ijinkan aku berbahagia sekali saja!
Tanpa beban..
Tanpa ketakutan...


Wednesday, April 10, 2019

SETANGKAI MAAF DAN DURINYA






    Pagi dan harapan-harapan besar yang kemudian lenyap. Dan maaf kemudian menjadi pemanis diantara bibir mentari yang baru saja membakar bumi. Maaf yang dirangkai dengan duri-duri yang mereka katakan ujian. Maaf yang mereka bilang indah karena tumbuh diantara lahan kesabaran. Ikhlas dan judul-judul lain yang mengaburkan wajah kekecewaan.

    Mereka dan kata-katanya yang indah. Mereka dengan maaf yang lalu menyudahi babak dari harapan yang melambung tinggi. Mereka dan gambar-gambar yang kemudian hilang seakan tak pernah diperlihatkan sebelumnya.
Dan lagi-lagi, sabar adalah penawar yang mereka anggap dapat meredakan duka.

    Aku tak pernah memintanya, apapun itu yang orang-orang hidupkan di balik katalog harapannya. Aku tak pernah meminta, namun mereka menyodorkannya. Mereka hadapkan aku pada pilihan-pilihan yang hanya perlu aku amini. Dan aku tak perlu bersusah payah merengkuh apa yang mereka hadapkan di depan mata. Aku hanya perlu menunggu dan dengan ajaib mereka menghadirkannya secepat kilat, untuk kemudian aku miliki, aku namai, dan kemudian aku jawab dengan “terimakasih”.

    Dan harapan tumbuh lebih cepat dari kata-kata manis yang menumbuhkan duri. Pagi, siang dan malam, angan-angan melambung seakan tengah menerjemahkan mimpi yang baru saja menjadi babak dari hari lain yang akan segera ditemui.

    Mereka bilang tutup matamu dan tunggu saja, karena mereka akan memberikan apa yang kau mau. Mereka seperti Jin dalam lampu ajaib yang ditemukan oleh Aladdin dan Jin itu hanya menanyakan apa permintaan Aladdin yang akan diwujudkan oleh Sang Jin.
Dan semua orang tahu bahwa apapun yang diminta oleh Aladdin, maka Jin itu mengabulkannya. Lalu apa jadinya jika Jin itu hanya bermulut besar? Hanya memberikan harapan dan kemudian meruntuhkannya karena sesuatu terjadi di luar rencananya?

    Maaf kemudian menjadi jalan terakhir untuk menjembatani harapan dan kekecewaan. Maaf kemudian menjadi mawar diantara duri-durinya yang menjadi pembuka untuk mengatakan tentang sabar dan ujian. Maaf kemudian menjadi penutup dari barisan panjang  kata-kata yang membuncah dalam dada, namun tak pernah jadi nyata.

    Seringkali maaf mereka anggap selesai. Seringkali maaf menjadi bunga paling indah yang mereka kira tak berduri.
Dan kali ini aku harus berjuang kembali, seorang diri dengan bekal maaf dan nasehat tentang sabar dan ikhlas yang akhirnya lepas, tak terbalas.

   

Saturday, April 6, 2019

NYANYIAN BIRU



Tadi malam tiba-tiba aku merindukan dia yang memanggilku “Biru”. Hingga kemudian aku tertidur dan kemudian memimpikan dia. Aneh memang, padahal kemarin seharian aku sibuk dan tidak terlintas apapun tentang dia. Apalagi sudah lumayan lama kita tidak berkomunikasi lagi. Dan semalam, tiba-tiba terasa seperti ada kupu-kupu dalam perut. Rasanya aku sedang bernostalgia ketika masih menjalin hubungan dengan dia. Karena kejadian semalam yang aneh itulah, kali ini aku akan sedikit menjelaskan tentang dia selama aku mengenalnya.

Mengenalnya pada tahun 2012, hingga kemudian aku menjalin hubungan dengannya pada tahun 2017, membuatku sedikit mengenal tentang siapa dia.
Diantara dua mantan aku yang lain, orang ini memiliki minat yang sama denganku dibidang seni. Dia menyukai seni dan sastra. Dan awal mula kita bisa berteman, karena dia seringkali membaca puisi-puisiku diblog. Sejak saat itulah, kita mulai intens berkomunikasi.

    Hingga kemudian aku menjalin hubungan dengan Jingga, hubunganku dengan dia tetap terjalin dengan baik, karena aku menganggapnya seperti saudara sendiri. Meskipun tidak dapat dipungkiri, selama aku pacaran dengan Jingga, dia beberapa kali merasa cemburu. Tapi, lepas dari semua itu, dia adalah sahabat yang baik. Dia berkorban banyak hal untukku, meskipun aku menjalin hubungan dengan orang lain.

    Biru, sebut saja dia begitu, aku menganggap dia orang yang spesial ketika aku pacaran dengan Jingga. Dia juga pahlawan yang selalu berkorban apapun dengan tulus, meskipun kadang-kadang aku tidak mengerti dengan dia. Dia adalah orang yang tidak bisa to the point jika bercerita tentang perasaannya. Dia bisa mengatakan A padahal yang dia rasakan adalah B. Dia adalah orang dengan mood yang berubah-ubah. Dia bisa bersikap sangat baik, namun beberapa menit kemudian jutek tiba-tiba. Ini yang kadang membuatku kesal terhadapnya, karena aku lebih suka jika dia berterus terang dengan apa yang dia rasakan, entah itu kesal, marah, cemburu atau rindu.

    Hal lain yang aku anggap tidak biasa adalah sikapnya terhadapku ketika aku memiliki pacar dan ketika aku single. Ini sangat kontras sekali. Dia akan sangat baik dan mengejarku mati-matian ketika aku tengah menjalin hubungan  dengan Jingga, namun ketika aku putus dengannya, dia tampak biasa-biasa saja. Bahkan ketika kemudian aku pacaran dengannya, dia tidak sebaik ketika aku pacaran dengan Jingga. Hingga kemudian kita putus, dia jarang berkomunikasi denganku dan terlihat masa bodo. Lalu kemudian aku menjalin hubungan lagi dengan seseorang pada tahun 2018, dia mau berkomunikasi lagi denganku. Dan dia lalu berubah lagi, ketika aku putus dengan orang itu. Dari sini aku bisa mengira-ngira kalau dia adalah orang yang lebih suka tantangan. Dia menyukai sesuatu yang lebih sulit untuk didapatkan. Dia memiliki ketertarikan terhadap apa yang sudah menjadi milik orang lain, tapi ketika dia kemudian memiliki kesempatan untuk memilikinya, dia sudah tidak antusias lagi, karena tidak ada tantangan untuk itu.

    Dalam hal yang berkaitan dengan seni, dia adalah orang yang dominan dengan otak kanan. Perasaan memiliki andil yang cukup besar dalam hidupnya, namun dalam hal uang, menurutku dia adalah orang yang dominan dengan otak kiri. Aku salut memang dia memprioritaskan keluarga dan dirinya sendiri, namun untuk hal-hal lain selain itu, dia agak sedikit perhitungan dan selalu menggunakan logikanya. Dia juga orang yang tidak berani mengambil resiko. Dia memang cocok untuk menjadi karyawan, bukan entrepreneur. Untuk masalah seni, kita memang sama, namun untuk masalah uang dan karier, kita berbeda. Aku jarang sekali perhitungan untuk masalah uang, meskipun aku tahu bahwa hal ini tidak selamanya bagus, tapi aku memiliki alasan tersendiri untuk itu. Aku juga sering mengambil resiko, terutama saat berbisnis. Aku lebih suka menjadi wirausaha dibanding menjadi karyawan, meskipun tidak dipungkiri bahwa aku juga sekarang bekerja, tapi aku tidak datang ke kantor setiap hari dan aku bekerja sambil membuka usaha.

    Dia memiliki kepribadian yang unik. Kadang dia seperti teka-teki yang sulit dipecahkan. Aku sulit menebak apa maunya. Dulu, dia adalah orang yang sangat menyenangkan. Dia adalah pendengar yang baik. Aku senang sharing apapun dengan dia, tapi lambat laun dia berubah karena perasaannya sendiri. Aku lebih nyaman dengan dia yang dulu pada awal-awal aku mengenalnya. Kita bisa berbicara apapun tanpa beban. Kita bisa tertawa, bercanda atau apapun itu dengan sangat menyenangkan. Namun, sejak dia sering pusing dengan perasaannya sendiri, hubungan kita menjadi tidak stabil.

    Aku butuh waktu sangat lama untuk akhirnya memiliki perasaan “kupu-kupu dalam perut” atau “cinta” terhadapnya. Pada awal-awal aku mengenal dia, sampai aku dekat dengannya, aku selalu mengatakan bahwa aku hanya “sayang” seperti saudara kepadanya, dan bukan perasaan lain. Tapi baginya, hal itu sungguh menyakitkan, padahal menurutku rasa sayang seperti kepada saudara itu lebih murni dan lebih bertahan lama, karena tidak ada nafsu di dalamnya.
Hingga kemudian kita bertemu untuk pertama kalinya,  aku juga belum memiliki perasaan apa-apa terhadapnya, terlebih saat itu aku sedang patah hati oleh Jingga.
Namun, sebuah kejadian tak terduga, mengubah perasaanku secara tiba-tiba terhadap dia, sampai beberapa tahun kemudian aku menjalin hubungan dengan dia, perasaan itu  masih melekat dalam hati. Aku kemudian bisa merasakan cemburu untuk pertama kalinya terhadap dia. Dan itu butuh waktu kira-kira 5 tahun sejak aku mengenalnya untuk aku benar-benar suka dan cemburu terhadap dia.
Aneh memang, aku membutuhkan waktu selama itu untuk menumbuhkan perasaan. Tapi yang pasti dan yang paling utama adalah aku merindukan dia sebagai sahabat dan pengagum rahasia seperti di awal-awal aku mengenalnya. Aku seperti kehilangan sosok dia yang dulu yang begitu mirip denganku dan sangat menyenangkan.

    Dia lebih menyenangkan ketika berada didunia maya, dibandingkan saat bertemu, karena ketika bertemu, dia kadang-kadang tidak bisa menjadi dirinya sendiri, karena ada banyak hal yang dia sembunyikan, terutama tentang perasaannya.

    Dan kini, aku merindukan dia yang sedang tidak berada di pulau yang sama denganku. Rasanya begitu jauh, padahal sebelum inipun jarak kita memang tidak dekat. Tapi, kali ini aku merasa dia benar-benar sulit untuk dijangkau, hingga membuat perasaanku menjadi hampa.
Namun, dari jauh, aku selalu menyebutnya dalam doa, karena hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini, tak ada yang lain. Aku hanya ingin dia bahagia dimanapun dia berada sekarang.

 Birunya langit dan tanah basah selepas hujan kini bersenandung,
 Katanya, hijaunya rumput masih saja sama...
Geraknya cepat atau lambat hanyalah tergantung angin yang meniupnya.
Dan senja akan memanjakan lelahmu,
tatkala mendung berulangkali
merisaukanmu dengan resah.

Hai..
Pulau yang lain bercerita tentang jarak
Tentang laut yang berbisik dan mengatakan
bahwa kita masih berada di bawah langit
yang sama.

Tentang tarian kehilangan
dan senandungnya
yang menyayat hati,
Itu hanya ilusi yang dibawa angin
berkelana menuju pusara rindu.

Hai..
Kuharap rasa kini baik-baik saja!
Seperti “Hai” dan “Apa Kabar”
yang seringkali
aku tanya.
Namun tak dinyana..