Akhir-akhir ini, aku sedang mengalami sebuah proses penting dalam hidup yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya, yaitu ketika aku bisa berkenalan lebih jauh dengan istighfar.
Berawal dari rasa hampa yang berkepanjangan, sedih yang tanpa sebab, sesak yang seakan merenggut nyawa, lalu kemudian istighfar datang dan menjadi obat penenang bagi segala keluh kesahku selama ini. Istighfar yang terus disebut dalam setiap hembusan nafas, seraya mengingat akan semua dosa dan menyesalinya, membuat semua beban yang aku pikul saat ini terasa sangat ringan,
Ini bukanlah istighfar biasa seperti yang pernah aku lakukan dahulu. Ini bukanlah istighfar dan taubat sambal yang seringkali menjadi pelampiasan saat aku “sendiri”, bukan pula istighfar dan taubat karena ustadz atau sahabat-sahabat dekat, tapi yang aku rasakan sekarang seperti sesuatu yang muncul dengan sendirinya dalam diri. Istighfar yang muncul bukan karena ancaman neraka atau iming-iming syurga, tapi istighfar yang datang karena kepasrahan pada Dzat yang selama ini seringkali dikhianati berkali-kali.
Dan ajaib, saat kita mendahulukan Dia dalam segala urusan, Dia malah memudahkan semua urusan kita. Ini sangat kontras dengan yang aku lakukan dulu, di mana dulu aku mengutamakan hal-hal duniawi terlebih dahulu, baru mengingat Dia, itupun sekedar kewajiban atau ketika aku memiliki banyak masalah, tapi kini aku mencoba melakukan segala sesuatu untuk mencari ridha-Nya dan hasilnya luar biasa. Aku tidak pernah mengira bahwa dengan kita terus beristighfar, bertaubat dan menjalani kehidupan sehari-hari dengan mengutamakan Dia, bisnis jadi lancar tanpa diduga, barang dagangan laku setiap harinya dan nasabah datang sendiri tanpa aku mati-matian menjelaskan.
Ini kali pertama aku menitikkan airmata padahal sedang tidak bersedih. Bahwa sangat luar biasa, semua yang aku perjuangkan mati-matian dulu, justru kini berdatangan satu persatu saat aku hanya meminta pengampunan dan ridha-Nya.
Apa yang aku lihat, aku dengar, aku rasakan, aku lakukan kini juga sedikit demi sedikit mulai berubah. Betapa damainya hati saat mendengar ceramah Quraish Shihab tentang penyakit hati. Betapa terharunya qolbu saat mendengar ceramah ustadz-ustadz di youtube tentang kisah-kisah keajaiban istighfar.
Aku seperti berada dalam fase baru dalam hidup ini. Betapa bersemangatnya kini saat akan ke luar rumah, entah ke toko atau ke kantor, atau sekedar silaturahmi ke manapun. Semangatku kini bukan karena uang, tapi karena ingin mencari ridha-Nya. Dia akan sangat senang dengan orang yang berikhtiar setiap harinya. Dan luar biasa, saat aku menunggu toko, rasa jenuh itu hilang karena aku menjadikan toko sebagai tempat untuk menyendiri seraya muhasabah dan merenungi kandungan ayat-ayatnya. Aku baca tafsir saat sedang menunggu toko, tanpa berpikir bahwa aku tengah berjualan, tapi hasilnya ajaib, pembeli terus ada setiap harinya, entah yang datang ke toko atau pembeli online.
Jika aku urai satu persatu tentang dahsyatnya istighfar ini, mungkin tulisannya akan sangat panjang. Tapi, intinya kita harus menemukan hidayah dan kesadaran itu oleh dan dari diri kita sendiri, bukan orang lain. Aku menuliskan ini, bukan sebagai bentuk ujub atau riya, tapi sebagai bentuk rasa syukurku pada-Nya yang telah menganugerahkan perasaan damai ini sekarang. Aku juga menulis ini sebagai harapanku kepada siapapun yang tengah membaca tulisanku agar segera menjemput rasa damai itu lebih cepat daripada yang aku lakukan, karena kita hanya punya “hari ini” dan “esok” belum tentu. Jangan sia-siakan harta berharga yang kita miliki sekarang, yaitu waktu.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({
google_ad_client: "ca-pub-9646517274301681",
enable_page_level_ads: true
});











