Thursday, March 30, 2023

SURI (Bagian 28)

 



Badanku masih terasa demam, ketika Suri sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor pagi ini. Aku belum bisa menggerakkan badanku karena semua terasa sakit dan kaku. Mataku terasa berkunang-kunang dan tidak bisa melihat apapun dengan jelas. Perutku juga rasanya mual dan mulas.


“Sayang, aku panggil dokter ya? Aku ga akan pergi ke kantor kalau kamu sakit begini.”


Suri terlihat cemas. Aku hanya menggeleng dan enggan untuk diperiksa oleh dokter karena sebelumnya aku merasa baik-baik saja. Suri lalu mengganti koolfever dikeningku dengan yang baru. Dia lalu memeriksa lagi suhu tubuhku sekarang.


“38°! Suhu tubuh kamu masih tinggi sayang. Aku telpon dulu dokter Andi deh.”


Suri kemudian mengambil handphonenya untuk menelpon dokter Andi yang merupakan dokter pribadi aku dan Suri. Aku lalu tidak bisa mendengar apa-apa lagi karena kepalaku terasa berputar dan mataku sangat ngantuk. Aku kemudian tertidur.


“Gejala radang usus!”


Samar-samar aku mendengar percakapan antara dokter Andi dan Suri, sesaat setelah dokter Andi selesai memeriksaku. Dokter Andi lalu memberikan resep kepada Suri dan dia berlalu pergi dari hadapanku. Suri kemudian mengantarkannya ke luar.

***


Tubuhku limbung dan aku kaget bukan main, ketika aku sedang berada ditoilet dan ingin buang air kecil, aku tidak bisa menemukan penisku di sana. Aku lalu meraba-raba kemaluanku untuk memastikan bahwa aku sedang tidak bermimpi. Tapi, rasanya tetap sama. Tanganku hanya merasakan sesuatu yang bukan penis, tapi lebih mirip vagina. Aku lalu menghela nafas panjang dan memberanikan diri untuk melihat kemaluanku dengan mata kepalaku sendiri.


“Ya Allah, apa ini??”


Aku kemudian terjatuh dan merasa lemas ketika mataku melihat kemaluanku kini sudah berubah lagi menjadi vagina. Aku menangis sejadinya karena tidak bisa menerima dengan apa yang terjadi sekarang. Aku lalu menghibur diriku sendiri dan mengatakan bahwa aku sedang bermimpi. Aku kemudian berdiri dan melepas semua bajuku untuk memastikan bahwa aku memang salah lihat. Tapi, aku kembali terkejut ketika aku membuka baju dan melihat dua gundukan di atas dadaku. Aku sekarang memiliki payudara.


“SURIII!!!”


Suri lalu berlari ke arahku karena mendengar aku menjerit dan berteriak memanggil namanya. Dia melihatku telanjang di depan wastafel dengan tubuh yang sudah berbeda. Aku kembali menjadi perempuan.


“Astaghfirullahaladzim!”


Suri menutup mulutnya karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia kemudian melihat tubuhku dari dekat. Tangannya lalu meraba payudara dan vaginaku. Suri melakukannya berulang kali untuk memastikan bahwa dia salah. Tapi, matanya memang tidak salah. Aku sudah menjadi seorang perempuan. Suri tidak banyak berkomentar dengan perubahan yang terjadi pada tubuhku. Dia hanya mengambil handuk dan menutup tubuhku yang masih telanjang di depannya.

“Pake dulu, biar ga masuk angin!”


Suri lalu duduk ditepi ranjang dengan wajah sedih. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Kita sama-sama diam dan tidak tahu harus berbuat apa.


“Aku bakal nyembunyiin apa yang terjadi sekarang! Kamu udah resmi menjadi laki-laki dan pengadilan sudah mengabulkan pergantian jenis kelamin kamu dari perempuan menjadi laki-laki. Aku bahkan sudah merasakan malam pertama sama kamu. Aku ga mau bikin semua menjadi heboh dan kacau. Kita sudah bahagia dengan kehidupan kita sekarang.”


Aku menatap wajah Suri yang masih belum menerima kenyataan yang terjadi sekarang, padahal sebelumnya dia sudah berjanji ketika kita berziarah ke makam Mahmud bahwa dia tidak akan berubah sedikitpun jika aku tiba-tiba menjadi perempuan kembali. 


“Kamu ingin aku berbohong dan menjadi penipu? Ini akan sulit buatku karena sudah ada sangkut pautnya dengan masalah keimananku. Sekarang aku sudah menjadi perempuan dan aku tidak boleh melakukan shalat jumat ke masjid. Aku juga harus shalat dengan mengenakan mukena. Dan banyak lagi aturan-aturan yang memang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Aku ga bisa kalau harus menutupi semuanya.”


Suri menutup kedua telinganya karena tidak mau mendengar penjelasan dariku. Dia lalu menunduk dan menangis sesenggukan. Aku memeluknya dengan perasaan sedih. Aku tahu ini berat untuk aku dan Suri, tapi aku yakin Allah punya rencana lain di balik semua ini.


“Kita pindah ke luar negeri! Bagaimana?”


Aku menggelengkan kepala dan tidak setuju dengan solusi dari Suri. Aku lalu memegang tangannya dan merangkul dia kembali.


“Mungkin sekarang Allah tengah mengajari kita tentang apa itu ikhlas.”


Suri melepaskan pelukanku dan menutup lagi telinganya. Dia menangis sejadinya.


“Aku ga mau! Aku ga bisa ikhlas sekarang! Aku ga mau kehilangan kamu! Aku ga mau pernikahan kita dibatalkan! Aku menyesal udah maksa-maksa kamu ke makam itu lagi dan sekarang kamu berubah lagi jadi perempuan! Aku menyesal!”


Suri terus menangis dan masih tidak bisa menerima dengan ketetapan dari-Nya yang bisa mengubah apapun dengan sekejap. Aku memeluknya lagi dan mencoba menenangkannya.


“Sayang, seperti yang pernah ibu aku bilang sebelum ini kalau yang mengubah kelamin aku itu adalah Allah dan bukan makam keramat. Aku juga shock dan belum bisa menerima dengan perubahan yang terjadi sekarang, tapi aku juga bersyukur karena pernah menjadi laki-laki walaupun hanya seumur jagung. Aku ga akan ninggalin kamu juga sayang. Ga akan ada yang berubah dengan rasa sayang aku sama kamu. Tapi, kita tetap harus terbuka dengan perubahan ini. Aku harus mengatakan kepada orangtuaku terlebih dahulu.”


Suri tetap menggelengkan kepalanya. Dia sekarang bahkan berdiri dan mengambil buku nikah kita berdua.


“Aku ga mau sayang! Aku ga mau buku nikah ini hanya tinggal kenangan, karena pernikahan kita dibatalkan. Kamu bisa terapi hormon dan operasi kelamin. Aku bisa membayar semuanya sampai kamu bisa menjadi laki-laki lagi. Tolong, kamu harus mengerti perasaan aku sekarang! Aku ga pernah minta apa-apa sama kamu! Aku cuma minta kamu untuk menjadi laki-laki, jika kita masih mau tinggal di Indonesia, kecuali kalau kita pindah ke luar negeri, aku ga akan mempermasalahkan jenis kelamin kamu, karena kita bisa menikah sesama jenis di luar negeri.”


Aku tertunduk lesu mendengar permintaan Suri yang terasa sangat berat untukku. Aku tidak mau melakukan terapi hormon, apalagi sampai operasi kelamin karena itu sangat bertentangan dengan nuraniku. Aku juga tidak mau pindah ke luar negeri dan menikah sesama jenis di sana. Aku memang sangat mencintai Suri, tapi aku lebih mencintai Dia yang sudah mencintai dan menolongku berkali-kali hingga detik ini.


“Sayang, beri aku waktu sampai aku siap dengan semuanya!”


Suri mengangguk dan memelukku dengan sangat erat seperti takut untuk kehilangan. Aku mengelus-elus punggungnya dan mengecup perempuan yang masih berstatus sebagai istri sahku itu.


“Aku ga akan masuk kantor dulu sampai aku mengambil keputusan untuk masalah ini. Aku mau meluangkan waktu dulu untuk merenung sambil menyelesaikan tulisanku. Bagaimana?”


Suri kembali mengangguk dan mengecup bibirku lembut.


“Sebenarnya aku ga masalah dengan jenis kelamin kamu, tapi masyarakat kita? Apalagi sekarang kamu adalah pemimpin perusahaan. Kalau sampai hal ini bocor dan semua orang tahu, mereka pasti akan mendesak kita untuk membatalkan pernikahan. Aku pasti berpisah sama kamu. Aku ga mau kaya gitu!”


“Ya udah sayang, nanti kita pikirkan lagi jalan terbaik untuk masalah ini ya. Aku mau pakai baju dulu.”


Aku lalu membuka handuk dan melihat dua payudaraku sudah menggantung di sana.


“Oya sayang, boleh aku pinjam bra?”


Tanyaku malu-malu kepada Suri karena badanku kini sudah memiliki payudara sehingga aku harus memakai bra.

Suri tertawa dan menghampiriku yang masih bertelanjang dada. Tangannya lalu dengan nakal mengelus payudaraku dan mulutnya mencium bibirku dengan sangat bernafsu.


No! Aku ga akan ngasih kamu bra, tapi binder bra!”


Kita lalu tertawa dan melanjutkan aktivitas di atas ranjang dengan status baru kita sebagai sesama perempuan. 

***


Perempuanku, aku masih ingin berjalan di atas tikungan curam berbatu. Mengecupmu lembut seperti anak kecil yang tertawa riang mengejar kupu-kupu. Perempuanku, kau masih semanis madu. Aku masih menggilaimu seperti pertama kali kita berbulan madu.

Perempuanku, aku ingin menetap dalam hatimu, bukan dalam buku nikahmu!

Aku ingin memelukmu sampai kita menua bersama untuk memeluk senja!

Perempuanku, rasa sayangku masih sama, bercahaya seperti terangnya bulan purnama!

Aku masih jatuh cinta!

Meski aku wanita..


Bersambung..


Wednesday, March 29, 2023

SURI (Bagian 27)

 


Makam keramat Mahmud. Aku tidak menyangka bahwa hari ini aku akan menginjakkan kakiku kembali ditempat ini. Aku hampir tidak percaya bahwa sekarang aku datang ke sini dengan status baruku sebagai laki-laki dan juga suami dari seorang anak konglomerat bernama Suri. 


“Sayang,  kamu masih inget ga rasanya terakhir kali jadi perempuan?”


Tanya Suri tiba-tiba ketika kita baru saja sampai di depan gerbang makam. Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya, karena aku tidak mungkin lupa rasanya menjadi seorang perempuan yang sudah mandarah daging dalam jiwaku.


“Sampai kapanpun aku tidak akan lupa rasanya menjadi seorang perempuan, karena menjadi perempuan adalah anugerah yang tidak ternilai harganya.”


Suri mengangguk dan merangkul tubuhku seraya berjalan masuk menuju area pemakaman.


“Menurut kamu, lebih bahagia menjadi perempuan atau laki-laki?”


Aku terdiam mendengar pertanyaan dari Suri. Aku cukup sulit untuk menjawabnya, karena kebahagiaan yang aku rasakan ketika menjadi seorang perempuan dengan ketika aku menjadi laki-laki itu berbeda. Tapi, yang pasti aku selalu mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan untukku hingga detik ini.


“Aku bahagia dengan diriku sekarang, karena aku tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi ketika menyukai seseorang. Aku lebih bahagia sekarang karena aku bisa menikah dengan orang yang aku cintai dan bahkan kelak aku bisa punya anak dari darah dagingku sendiri. Aku bahagia sayang dengan apa yang sudah Tuhan kasih hari ini, tapi aku juga tidak menyesal pernah menjadi seorang perempuan, karena ketika menjadi seorang perempuan aku memiliki perasaan yang lebih peka sehingga aku bisa mengerti banyak hal yang tidak dapat dipahami oleh logika.”


Suri tiba-tiba mencium pipiku manja ketika aku baru saja selesai berbicara. Aku tersipu malu dibuatnya sebab akhir-akhir ini kita memang jarang terlihat romantis, karena kita terlalu sibuk mengurusi persoalan-persoalan orang lain.


“Jangan sampai deh kamu jadi perempuan lagi, nanti si Amar itu ngejar kamu lagi!”


Aku tertawa mendengar Suri kembali membahas Amar. Sepertinya Suri memang paling sering merasa cemburu dengan Amar, padahal aku tidak pernah memiliki perasaan apapun terhadap Amar, bahkan ketika aku masih berstatus sebagai seorang perempuan.


“Denger ya sayang, aku ga pernah menyukai laki-laki sejak aku masih berjenis kelamin perempuan, apalagi sekarang aku sudah menjadi laki-laki. Jadi, kamu ga usah cemburuan sama Amar lagi. Aku illfeel jadinya.”


Suri tertawa mendengar ucapanku. Kita lalu melanjutkan perjalanan ke makam Eyang Abdul manaf, Makam Sembah Eyang Dalem Abdullah Gedug dan Makam Sembah Agung Zaenal Arif. Aku dan Suri lalu berdoa di makam ketiga tokoh islam tersebut setelah sebelumnya kita terlebih dahulu mengambil wudlu dan shalat di masjid yang berada di sebelah makam.


“Sayang, suasana keagamaan di sini kentara banget ya? Terus, semua rumah masyarakat di sini memang sederhana? Aku juga ga mendengar suara tv atau suara-suara musik yang biasa orang-orang putar dirumahnya.”


Suri merasa aneh dengan rumah-rumah penduduk yang berada dikampung ini karena semua rumahnya berbentuk panggung dan bukan rumah permanen. Penduduk di sini juga tampak sangat agamis dan jarang terlihat menghabiskan waktu dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi seperti sekarang untuk mendapatkan hiburan secara instan.


“Masyarakat tidak membangun rumah permanen karena struktur tanah yang ada di Kampung Mahmud bentuknya seperti endapan rawa dari sungai Citarum yang berada di sekelilingnya. Sehingga sangat tidak diperbolehkan membangun rumah secara permanen, karena dengan kondisi tanah yang tidak memungkinkan, apabila dibangun rumah permanen dikhawatirkan bisa mendatangkan petaka bagi masyarakat itu sendiri. Nah, kalau untuk hiburan bagi masyarakat di sini juga sangat dilarang karena mereka masih memegang teguh prinsip dari nilai-nilai keagamaan, seperti mereka hanya fokus dengan tujuan hidup yang sebenarnya bahwa kita akan kembali kepada Tuhan dan kita berada di dunia hanya untuk beribadah kepada Tuhan, sehingga mereka tidak mau terbuai dengan dunia hingga lupa bahwa dunia hanya sementara. Hiburan bagi mereka adalah salah satu hal yang bisa melalaikan mereka dari mengingat Tuhan, sehingga tidak aneh jika kamu melihat masyarakat di sini tidak ada yang menonton tv atau hiburan-hiburan lainnya.”


Suri terlihat antusias mendengarkan penjelasan dariku. Kita lalu duduk di bawah pohon beringin yang berada tidak jauh dari makam, karena kita sudah berjalan-jalan lumayan lama dan aku ingin istirahat sejenak.


“Sayang, kamu mau ga nikahin Anna?”


Sontak aku menoleh ke arah Suri dan nyaris pingsan mendengar pertanyaannya yang menurutku sangat tidak masuk akal.


“Jangan bercanda kamu!”


Badanku langsung meriang ketika nama Anna disebut. Dan bukan hanya disebut, tapi kali ini Suri memintaku untuk menikahinya.


“Aku serius sayang! Aku sudah memikirkannya matang-matang semalam. Anna dan anaknya butuh orang seperti kamu. Dan aku akan menganggap dia saudaraku sendiri. Aku janji ga akan cemburu.”


Aku langsung memegang kening Suri karena aku merasa aneh dengan sikapnya sekarang. Suri biasanya sering cemburu dengan siapapun yang dekat denganku, tapi kini secara tiba-tiba Suri memintaku untuk menikahi Anna.


“Kamu sakit? Kayanya kamu kerasukan deh. Ayo kita pulang!”

***


Mataku terbelalak ketika melihat Suri dan Anna kini sudah berbaring di atas ranjang dan hanya memakai pakaian dalam. Tubuh mereka terlihat sangat seksi dengan lekukan tubuh yang menyerupai biola dan kulit putih bersinar. Wajah mereka memerah dan terlihat malu-malu ketika memanggilku untuk berbaring ditengah-tengah antara Suri dan Anna.


“Sini sayang!”


Ujar Suri yang kini sudah membuka BH dan celana dalamnya. Dia lalu mengangkang ke arahku dan memperlihatkan surga kenikmatannya yang kini sudah menganga terbuka. Dua payudaranya sudah membesar dan tidak sabar untuk aku remas dan hisap. Vaginanya terbuka lebar dan mengeluarkan cairan pelumas seakan-akan sudah siap untuk menghisap penisku kuat-kuat di dalam rahimnya. 

Anna yang berada di sampingnya juga tidak mau kalah. Dia lalu telanjang bulat di depan mataku. Dia bahkan beranjak dari tempat tidur dan meraih tanganku untuk dimasukan ke dalam lubang vaginanya. Jariku terasa basah dan hangat berada di dalam vagina Anna.


“Arrggghhh!”


Anna mendesah ketika jariku menusuk-nusuk vaginanya. Aku yang mendengar desahan Anna membuat libidoku naik dan penis di balik celanaku menegang. Suri yang sudah tahu akan hal itu lalu melorotkan celanaku dan meraih penisku yang sudah menegang dan membesar. Dia langsung memasukan penisku ke dalam vaginanya.


JLEB


Kini penisku sudah berada di dalam vagina Suri. Aku lalu bergerak maju mundur, sedangkan tanganku masih sibuk keluar masuk di dalam vagina Anna. Mulutku juga tidak tinggal diam, aku menghisap puting payudara milik Suri dan Anna secara bergantian.


“Arrrgghhhh, terus sayang!”


Suri dan Anna terus mendesah, hingga tidak berapa lama kemudian penisku terasa dihisap kuat dan diremas oleh vagina Suri. Vagina Suri kemudian mengeluarkan banyak cairan. Dia orgasme lebih dahulu. Aku lalu mencabut penisku dan hendak memasukkannya ke dalam vagina Anna. Aku sudah tidak sabar ingin merasakan bagaimana nikmatnya penisku berada di dalam vagina Anna. Aku lalu menggesekkan kepala penisku terlebih dahulu ke atas klitoris Anna. Anna terlihat kegelian, lalu tangannya memegang penisku dan berusaha memasukanya ke dalam lubang vaginanya, namun belum sempat aku memasukannya, aku mendengar suara bayi menangis.


“Oaaaaa, oaaaa, oaaaa!!”


Aku terbangun dengan nafas ngos-ngosan dan mataku sudah melihat Suri tengah memangku Arka yang sedang menangis.


“Sialan! Padahal sedikit lagi masuk!”


Gerutuku yang merasa kesal karena penisku tidak jadi masuk ke dalam vagina Anna karena aku keburu terbangun oleh tangisan Arka. Aku lupa kalau malam ini Arka dan Tissa tidur bersamaku karena pengasuhnya sedang pulang kampung.


“Kenapa sayang?”


Tanya Suri yang kini tengah menyusui Arka dengan botol  susu yang berada ditangannya. 


“Mimpi buruk!”


Jawabku singkat, tapi Suri malah cekikikan mendengar aku barusan mimpi buruk.


“Mimpi buruk atau mimpi basah? Ko sampe mendesah-desah sambil nyebut-nyebut nama Anna? Aku tadi siang baru minta kamu buat nikahin Anna aja, dia udah kebawa mimpi sama kamu, kebayang kalau kalian udah nikah beneran, mungkin kamu bakal tergila-gila sama Anna dan lupa sama aku!”


Mendengar Suri yang sudah menampakkan lagi rasa cemburunya, aku kemudian tertawa. Aku lalu memeluk tubuhnya dari belakang dan mencium lehernya.


“Kayanya sekarang kamu udah ga kerasukan lagi, buktinya Suri yang cemburuan kini udah kembali lagi, hehe. Makannya kalau masih cemburuan jangan sok bijak nyuruh-nyuruh aku menikahi Anna, nanti kamu menyesal! Aku baru nyebut-nyebut nama Anna waktu tidur aja kamu udah marah gini, apalagi kalau namanya disebut di depan penghulu dan orang-orang kemudian bilang sah, mungkin kamu bakal nangis-nangis sambil guling-guling ditanah karena ga rela suaminya dibagi dua! Hahahaha.”


Suri lalu mencubit pahaku dengan wajah cemberut. Dia memang terlihat menggemaskan kalau sedang cemburu seperti itu.


“Oh Suri, aku ga mungkin poligami! Aku masih tahu diri!”

***


Bila sudah terbagi dua, maka purnama enggan datang lagi untuk menyapa. Bila sudah terbagi dua, mataharipun lalu pergi karena lelah menyinari. Bila sudah terbagi dua, kadang-kadang kita lupa apa itu bahagia. Bila sudah terbagi dua, ada yang terluka dan berduka. Bila sudah terbagi dua, hilang sudah semua rasa, sebab yang ada hanya derita! Bila sudah terbagi dua, tidak ada lagi kata cinta dan yang tersisa hanyalah nestafa! Bila sudah terbagi dua, kita tidak akan pernah baik-baik saja, sebab janji setia sudah berubah menjadi dusta!


Bersambung..

Tuesday, March 28, 2023

SURI (Bagian 26)

 


“Masih ingat ga waktu kita di Bali, kamu pernah cerita sama aku kalau ada satu mimpi kamu yang belum terwujud? Kamu ingin kisah kita dibuat buku dan suatu hari buku itu bisa difilmkan? Kenapa sekarang kita ga mulai mewujudkannya? Kita hanya perlu mengambil langkah pertama. Aku siap mendampingi kamu sampai impian itu bisa terwujud.”


Suri menyodorkan sebuah laptop kepadaku dan memintaku untuk menulis. Aku memandangi laptop itu dan masih bingung harus mulai menulis darimana. Suri yang paham akan hal itu lalu duduk di sampingku dan kemudian menyalakan laptopnya.


“Ga perlu bingung harus mulai darimana, tapi tulis saja yang ingin kamu tulis. Nanti aku bantu juga sedikit-sedikit. Kita kerjakan berdua ya sayang. Kalau buku ini udah selesai, aku yang mau turun tangan sendiri untuk mengangkat cerita ini menjadi film. Berapapun biaya yang harus dikeluarkan, aku ga akan mempermasalahkan.”


Aku lalu memegang tangan Suri dan menciumnya dengan lembut. Kulitnya begitu halus dan wangi. Tangan Suri memang sangat indah, dengan jari-jari yang lentik dan ramping, serta kulit putih bersih membuatku selalu ingin berlama-lama memegang tangannya dan menciumnya.


“Makasih sayang! Hari ini memang cukup berat untukku, tapi kamu selalu membuat semua menjadi terasa ringan. Makasih karena kamu masih ingat mimpiku. Makasih juga karena kamu ingin mewujudkannya. Aku menulis sekarang ya!”


Suri mengangguk dan tersenyum melihatku yang mulai menarikan jari-jari tangan di atas keyboard laptop. Suri kemudian memainkan alat musik kalimba untuk menemaniku mengeluarkan isi kepala.


“Sejak kapan kamu bisa alat musik kalimba?”


Tanyaku heran karena sebelumnya aku tidak pernah melihat Suri memainkan alat musik kalimba.


“Udah lama ko aku bisa main kalimba, cuma aku belum pernah memainkannya di depan kamu aja. Ya udah, sekarang kamu lanjut ngetiknya dan aku mainin kalimbanya buat kamu.”


Aku mengangguk dan mulai fokus ke depan layar laptop sambil mendengarkan alunan kalimba yang indah yang dimainkan oleh Suri.

***


“Aku ga mau putus sama Rossa!”


Ujar Tiara yang pagi ini sudah berada di Yayasan. Penampilan Tiara sangat berbeda dengan Rossa. Rambutnya pendek dengan model undercut berwarna pirang. Telingnya penuh dengan tindikan dan tangannya bertato. Sedangkan Rossa  tampak feminim dengan rambut hitam panjang dan selalu terlihat mengenakan rok.


“Kita ga menyuruh kalian putus. Kita hanya meminta Rossa tinggal di sini sementara waktu agar dia bisa konsultasi dan…”


Belum sempat aku melanjutkan perkataanku, perempuan tomboy itu lalu memotong pembicaraan dan menarik tangan Rossa.


“Ga usah dibuat rumit Om! Aku sama Rossa ga sakit. Aku sama dia cuma dua orang manusia yang saling menyukai.  Ya kaya om sama tante yang saling mencintai. Kalau kita bisa menikah, kita udah menikah dari dulu. Tapi kan ga bisa! Aku mau bawa pulang Rossa! Kita udah lama tinggal bareng. Jadi, ga ada yang bisa misahin aku sama Rossa! Aku siap pasang badan!”


Tiara lalu pergi begitu saja bersama Rossa, meninggalkanku sendiri yang masih melongo dibuatnya karena belum selesai berbicara.


“Aku suka tuh sikap Tiara yang gentle, tegas dan ga bertele-tele.”


Aku melirik ke arah Suri yang kini senyum-senyum sendiri ketika menyebut nama Tiara yang menurutnya gentle dan tegas.


“Kamu suka sma dia?”


“Iya aku suka sikap dia yang tegas!”


Jawab Suri singkat yang membuatku merasa tersindir karena selama ini aku jarang bisa bersikap tegas dan kadang selalu bertele-tele.


“Tapi, dia ga ada sopan santun. Aku belum selesai bicara aja dia udah pergi gitu aja. Ga permisi sama sekali!”


Ucapku yang masih kesal dengan sikap Tiara yang tidak bisa menghargai orang yang sedang berbicara dengannya.


“Ya namanya juga anak muda! Nanti juga dia bisa belajar sopan pelan-pelan.”


Timpal Suri seraya pergi untuk lari pagi.

***


“Sayang, jadi awal mula kamu berubah menjadi laki-laki setelah pulang dari makam keramat Mahmud?”


Tanya Suri yang kini mulai membaca Bab pertama dari novel yang aku tulis semalam.


“Iya! Aku kira juga ada kaitannya dengan tempat itu, tapi ibuku bilang bukan. Semuanya ya memang kehendak Allah aja aku tiba-tiba berubah menjadi laki-laki.”


Suri mengangguk dan lanjut membaca.


“Oya sayang, kapan-kapan kita ke tempat itu yuk? Anggap aja nostalgia waktu kamu terakhir jadi perempuan.”


“Mending ga usah ke sana sayang! Gimana kalau aku berubah lagi jadi perempuan?”


Ucapku kepada Suri yang masih bersikeras untuk datang ke makam keramat itu.


“Hahaha, ya ga mungkinlah sayang. Kamu takut banget kalau kamu tiba-tiba berubah lagi jadi perempuan? Asal kamu tahu aja, kalaupun kamu jadi perempuan lagi, aku ga akan pernah ninggalin kamu. Ga akan ada yang berubah dengan hubungan kita. Yang berubah hanya tubuh kamu saja.”


Aku terharu mendengar kata-kata Suri sekaligus merasa khawatir kalau apa yang kita takutkan barusan benar-benar terjadi. Aku tidak tahu harus bagaimana kalau aku tiba-tiba berubah lagi menjadi seorang perempuan. Aku tidak siap dan tidak akan pernah siap membayangkan hal itu.


“Kita jangan ngomongin itu lagi ya! Aku udah bahagia sekarang bisa menikah sama kamu. Dan kalau sampai kelaminku tiba-tiba berubah lagi menjadi perempuan, mana bisa kita menikah. Bisa-bisa pernikahan kita yang sudah sah juga dibatalkan.”


Aku lalu memeluk Suri dengan erat seraya membayangkan kalau aku harus kehilangan dia karena pernikahan kita batal dan dianggap tidak sah.


“Kan aku udah bilang sayang, apapun yang terjadi. Mau kamu laki-laki atau perempuan, aku janji ga akan pernah ninggalin kamu. Kita tetap hidup bersama dan membesarkan anak-anak.”


Ucapan Suri cukup membuatku hatiku tenang, namun tetap saja aku tidak tahu apa dia masih akan bersikap seperti ini ketika hal itu benar-benar terjadi, atau Suri akan pergi dan mencari pengganti.

“Kamu bisa ngomong begitu sekarang, tapi ga tahu kalau aku benar-benar jadi perempuan, apa kamu masih tetap bertahan atau memilih si Teo yang kata semua orang tampan dan mapan.”


Suri kemudian melepaskan pelukanku dan wajahnya terlihat geram karena aku menyebut nama Teo di depannya.


“Yang ada juga kamu tu bakal kegatelan lagi sama si Amar! Waktu jadi laki-laki aja kamu masih berani naik ke punggung dia, apalagi kalau jadi perempuan, udah pasti kamu mau diajak naik ke pelaminan!”


“Itu kan waktu aku takut karena dikejar anjing! Aku udah jelasin ini berkali-kali kayanya, tapi kamu ngebahas terus.”


“Kamu juga bahas Teo terus, padahal aku udah bilang ga suka sama dia!”


Timpal Suri yang masih tidak mau kalah berbicara denganku. Aku hanya tertawa melihat Suri yang selalu cemburu dengan Amar dan aku yang kerap cemburu dengan Teo.


“Ya, udah makannya kita jangan ke makam itu ya. Biar apa yang kita takutkan ga terjadi!”


“Yang mengubah kelamin kamu itu Tuhan, bukan makam! Udah masuk syirik loh kalau kamu mikirnya begitu! Aku tetep mau ke makam itu buat berziarah. Kalau kamu ga mau nemenin ga apa-apa, aku bisa pergi sama supir.”


Suri masih bersikeras ingin pergi ke makam keramat Mahmud, seperti anak kecil yang terus merengek ingin dibelikan permen. Aku hanya menggelengkan kepala dan menghela nafas panjang melihat tingkah istriku yang kadang-kadang masih terlihat kekanak-kanakan.


“Ya udah, besok kita kesana!”


Suri terlihat girang mendengar jawabanku yang kemudian mengiyakan apa yang dia mau.


“Makasih sayang! Kamu memang suami terbaik untukku!”


Ucap Suri sambil mengecup pipiku. Aku hanya tersipu dengan hati yang sebetulnya masih ragu-ragu.

***


Kalau aku kembali menjadi rembulan, masihkah kau mau bercinta denganku setiap malam? Kalau aku kembali menjadi rembulan, masihkah dedaunan bisa tumbuh hanya dengan sinar yang temaram? Kalau aku menjadi rembulan, masihkah kau tetap bertahan di atas pelaminan? Dan tetap menjadi pengantinku yang setia hingga ajal memisahkan?


Kalau aku kembali menjadi rembulan dan kau pun rembulan, masihkah nama kita tercatat dalam buku pernikahan? Masihkah kita bisa berjalan bergandengan dan menyebut diri kita pasangan?

Kalau aku kembali menjadi rembulan dan kau pun rembulan, Masihkah kita mendapat restu dari Tuhan?

Masihkah ada harapan?

Ikatan?

***


Bersambung…